Kiai Mushofa: Dulu Penjual Pentol, Kini Mengasuh Pesantren

Kiai Mushofa: Dulu Penjual Pentol, Kini Mengasuh Pesantren

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Sabtu-Ahad (19-20/06) dari Surabaya, saya meluncur ke Desa Batu Meranti, Kec. Sungai Loban, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Mendarat di Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, lalu melanjutkan perjalanan darat selama 5 jam ke lokasi.

Di desa ini, ada Ponpes Daarul Ishlah Assyafiiyyah. Ahad kemarin saya diminta mengisi motivasi bagi wali santri dan wisudawan-wisudawati dalam Haflah Akhirussanah. Mereka lulus Madrasah Diniyah Wustho (Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah Wustha) dengan spesialisasi penguasaan Fathul Mu’in dan hafalan Nadzam Imrithi.

Rijal Mumazziq Z. M.H.I. memberikan motivasi bagi wali santri dan wisudawan-wisudawati dalam Haflah Akhirussanah

Tahun ini, mereka semua melanjutkan ke Madrasah Diniyah Ulya (PKPPS Ulya) yang baru berdiri. Target lain, 3 tahun mendatang mereka bisa melanjutkan kuliah di kampus Islam/umum, atau sekalian lanjut ke Ma’had Aly yang lima tahun mendatang ditargetkan berdiri.

Pondok ini didirikan oleh suami istri alumni INAIFAS Kencong Jember. Namanya Kiai Mushofa bin Badrus. Masih muda, kelahiran 1983, tapi punya ilmu tua dan pengalaman yang berjibun. Asalnya dari Karangrejo Gumukmas Jember. 2002 masuk di INAIFAS. Lulus 2008. Saat kuliah penuh perjuangan. Ngontel dari rumah ke kecamatan lanjut ngebis pulang-pergi ke kampus. Menjadi aktivis PMII dan IPNU, juga Pramuka.

Biar bisa membayar kuliah, Kiai Mushofa ini juga mengajar di SDNU Karangrejo 1, MIMA Karanganyar 1, dan MTs Darul Ulum Karanganyar. Semua terletak di Jember. Bisyarah yang diterima dia tabung, lalu untuk membayar kuliah. Berkat kegigihannya, dia lulus predikat cumlaude.

Istri Kiai Mushofa, Mbak Umi Latifah, berasal dari Paseban, Kencong Jember. Dia adik kelas Kiai Mushofa di kampus. Kuliah dapat ilmu, pengalaman, juga jodoh. Komplit. Keduanya menikah tahun 2008, punya anak dua tahun setelahnya.
Saat di bayi usia 6 bulan, pasangan ini nekat berangkat merantau ke Kalsel, 2010. Kabupaten Tanah Bumbu, Kec. Sungai Loban, tepatnya di Desa Batu Meranti, menjadi persinggahannya.

Di sini, keluarga kecil ini mengontrak bangunan warung ukuran 4 x 6 milik warga di komplek pasar Batu Meranti.
Untuk menafkahi keluarga, Kiai Mushofa berjualan pentol keliling. Kalau malam berkmjualan bakso. Pernah pula berdagang sate. Kadang-kadang melayani katering, dan kerjaan lain. Pekerja keras, betul!

Walaupun baru setahun, tapi dia mulai diminta untuk mengajar ngaji ibu-ibu. Gaya ngajinya luwes. Tematik berkisar keseharian masyarakat. Komunikasinya pakai bahasa Jawa. Maklum, di wilayah ini, mayoritas keturunan Jawa. Ada yang dari Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Blora, Madiun, Banyuwangi, Jember, Ponorogo, Ngawi, dst.

“Mereka adalah para transmigran yang menempati lahan ini sejak tahun 1980-an. Meski banyak yang prihatin di awal, kini banyak dari mereka yang secara ekonomi berhasil, baik dari perkebunan karet, kelapa sawit, maupun batubara.” kata Kiai Mushofa.

Walaupun sudah sering mengisi khutbah Jum’at, ceramah dan ngaji keliling di berbagai desa, Kiai Mushofa tetap jualan pentol keliling. Usaha baksonya semakin laris. Lantas membuka kios bakso.

Ketika ada ustadz dari kelompok sebelah ceramah dengan provokatif soal furuiyah: larangan tahlilan, dzikir bersama, maulidan, dan bahkan mengejek talqin jenazah, Kiai Mushofa lantang membela. Dia menyampaikan hujjah di beberapa pengajian kelilingnya. Tak disangka, ternyata pemilik kios yang dia sewa merupakan pendukung ustadz sebelah. Dia pun diusir.

“Nelongso tenan!” katanya terbahak mengingat masa lalunya.

Akhirnya Kiai Mushofa membeli sepetak tanah. Ukuran 13 x 15 m. Harganya 13 juta. Diambil dari tabungan yang dia miliki. Agar hemat, dia bangun sendiri rumah sederhana menggunakan kayu bekas. Di situ di tinggal. Rumah kecil sekalian dijadikan warung bakso.

Ponpes Daarul Ishlah Assyafiiyyah Desa Batu Meranti, Kec. Sungai Loban, Kab. Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan

Tahun 2013, beberapa sesepuh desa yang sebagian juga alumni pondok pesantren di Trenggalek, sepakat mendorongnya mendirikan pondok pesantren. Dia pun diberi wakaf berupa tanah rawa. Dia bangun asrama santri. Masih berbentuk gubuk sederhana, bukan permanen. Jumlah santrinya baru 11 anak. Mereka semua dikader hingga hafal nadzam Alfiyah Ibni Malik. 5 orang melanjutkan kuliah, 2 orang memilih bekerja di pertambangan.

“Sedangkan yang 4 orang saya jadikan guru TPA di wilayah Kampung Hindu, untuk mengajari anak-anak muslim. Di situ ada 22 KK. Mereka ini yang menjaga semangat keberislaman warga.”

Tahun 2014, jumlah santri mulai bertambah. Ada juga preman insaf yang mau mondok. Tubuhnya penuh rajah tato. Selama enam bulan dia diajari ibadah dasar oleh Kiai Mushofa, bahkan kemudian dicarikan jodoh sekaligus dinikahkan. Ada juga pecandu narkoba yang berhenti setelah mondok di sini selama setengah tahun. Kiai Mushofa pula yang mencarikan jodoh. Dapat mertua dari desa sebelah.

“Gara-gara ini saya dianggap masyarakat bisa nyuwuk dan mengobati pecandu narkoba. Padahal ya nggak juga.” katanya merendah.

Mayoritas santri di pondok ini rata-rata anak atau cucu dari para transmigran Jawa. Karena merasa senasib sepenanggungan sebagai pendatang, para wali santri pun ikut membangun pondok. Ada yang menyumbang material, semen, keramik, menyewakan buldozer untuk meratakan dan memadatkan tanah, hingga menyediakan konsumsi bagi para kuli bangunan. Akhirnya pondok semakin berkembang. Musala dan asrama santri sudah berupa bangunan permanen. Demikian juga gedung madrasah diniyah. Kokoh semua.

Kini ada 86 santri mukim. Putra putri. Yang sudah mendaftar sebagai santri baru sekira 50 remaja. Inipun ada kemungkinan terus bertambah.

Ponpes Darul Islah Assyafiiyyah usianya memang 8 tahun. Masih gres. Pengasuhnya pun masih muda. Tapi ini justru menjadi kelebihannya. Muda, lincah, visioner. Cita-cita Kiai Mushofa yang disampaikan ke saya, malam Ahad kemarin, adalah merintis Ma’had Aly. Jika tidak takhassus tafsir, mungkin fiqh. Tergantung perizinan dari Kemenag RI.

Lahan untuk Ma’had Aly sudah ada. Tanah wakaf dari seorang pengusaha. Luasnya 5 hektar. Sebagian, sekitar 3 hektar, ditanami kelapa sawit dan pohon jati. Hasilnya panen sawit lumayan. Bisa membeli material untuk membangun asrama santri.

Kiai Mushofa bersama Gus Rijal Mumazziq Z., M.H.I.

Semoga cita-cita beliau dikabulkan oleh Allah. Sehat selalu, Mas Kiai…

Perempuan Ahli Hadits asal Indonesia

Perempuan Ahli Hadits asal Indonesia

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di dalam ‘Iqdul Faridtsabat alias catatan matarantai keilmuan yang disusun oleh Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, terdapat satu nama yang mencorong. Ulama di jalur transmisi pengajaran Shahih Bukhari yang diterima Syekh Yasin semua laki-laki, tapi dia sendirian. Dia perempuan, namanya Syaikhah Fatimah binti Abdusshamad al-Falimbani. Ya, nama ini ada di urutan ke-lima dari bawah.

Persisnya, (1) Syaikh Yasin Al-Fadani mendapatkan sanad Shahih Bukhari dari (2). Syaikh Abdul Karim bin Ahmad Khatib bin Abdil Lathif bin Muhammad Ali bin Ahmad Al-Minangkabawi; beliau menerima dari: (3). Al-Allamah As-Syaikh Ahmad bin Abdil Latif Al-Khatib Al-Minangkabawi; dimana beliau belajar kepada: (4). Syaikh Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi.

Mahaguru ulama Nusantara ini menerima dari: (5.) Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad Al-Falimbani; beliau menerima dari ayahnya, yaitu (6). Syaikh Abdusshamad bin Abdirrahman Al-Falimbani; beliau menerima dari: (7). As-Syaikh ‘Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far Al-Falimbani; beliau menerima dari gurunya, dimana gurunya juga menerima sanad ini dari gurunya dan seterusnya hingga ke Imam Bukhari.

Transmisi ilmu ini penting. Sangat penting. Karena itu setiap ulama biasanya mencatat matarantai keilmuan yang dia terima. Agar jelas gurunya, bersambung kepada gurunya, hingga ke penulis kitab.

Sanad seperti ini memegang peranan penting karena sanad adalah semacam jaminan bahwa keilmuan kita didapatkan dari pemegang otoritas agama itu sendiri. Bukan suatu yang didapatkan secara sembarangan. Inilah yang membedakan antara ajaran Islam dengan keilmuan yang lain.

Hebatnya, nama perempuan ini menyembul di antara nama para jawara di bidang hadits. Nisbat daerahnya bukan al-Bashri (Irak), al-Ashfihani (Persia), Al-Makki (Hijaz), atau az-Zabidi (Yaman), melainkan al-Falimbani alias Palembang. Ini membuktikan kepercayaan dirinya sebagai seorang perempuan yang mau berusaha keras mendalami keilmuan hadits, serta didukung oleh ayahnya, Syekh Abdusshamad al-Falimbani, seorang mujahid, mursyid, sufi, dan penulis produktif.

Meski kultur patriarkhis sangat kuat, namun Fathimah yang hidup di abad ke 19 enggan menolak konstruksi sosial budaya ini. Dia dididik oleh ayahnya, dan mewarisi kekayaan intelektual yang dia peroleh dengan kerja keras hingga mendapat gelar prestisius, Syaikhah, alias guru besar perempuan.

Saya juga kagum dengan para ulama yang enggan mengurung anaknya di ruang belakang dengan alasan “perempuan hanya konco wingking”. Syekh Abdusshamad al-Falimbani memang pengecualian itu. Beliau mendidik putrinya dengan caranya sendiri di tengah budaya Arab (karena beliau hidup di Mekkah) yang sangat kuat cengkraman patriarkhisnya.

Saya jadi ingat dengan penjelasan Ustadz Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam Sekolah Islam Nusantara, April 2018 silam di Pesantren Alif Lam Mim, Surabaya, tentang ulama perempuan di dunia Islam.

Filolog muda ini menjelaskan apabila pada abad keempat belas Hijriyah atau abad ke sembilan belas Masehi, ulama perempuan ahli hadits di dunia Islam itu hanya tiga.

Pertama, Syaikhah Ummatullah binti ‘Abd al-Ghani al-Dahlawi, Delhi, India. Kedua, Syaikhah Fathimah binti Ya’qub al-Makki dari Mekkah. Dan ,ketiga, tentu saja Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad al-Shamad al-Falimbani.

Selain Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad ini, ada juga Syaikhah Khairiyah binti Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari. Nama terakhir ini bermukim lama di Mekkah, mendirikan madrasah khusus cewek, kemudian pada tahun 1950-an kembali ke tanah air, karena kecintaannya terhadap kampung halamannya di Jombang.

Di sini jelas, ulama sekaliber Syekh Abdusshamad al-Falimbani dan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mendorong putrinya agar setara di bidang keilmuan dengan kaum laki-laki. Setara di hadapan pengetahuan dan tidak ada perbedaan kelamin dalam kontribusi menyebarkan ilmu.Sekilas poin yang saya sampaikan dalam Sekolah Islam Gender (SIG) yang diselenggarakan oleh Kopri PMII Fak Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember, Jumat, 5 Maret 2020/11 Rajab 1441 H

Kiai Ghufron Faqih dan Jejaring Tebuireng di Surabaya

Kiai Ghufron Faqih dan Jejaring Tebuireng di Surabaya

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Ketika Kota Malang jatuh ke tangan Sekutu, 23 Juli 1947, Bung Tomo mengurus dua kurir menyampaikan kabar ini kepada KH. M. Hasyim Asy’ari. Saat itu, Kiai Hasyim sedang ngobrol dengan KH. Adlan Aly dan KH. Ghufron Faqih, pimpinan Barisan Sabilillah Surabaya.

Di film Sang Kiai (2013), sosok Kiai Ghufron digambarkan berambut ikal, berpeci hitam rapi, dengan menyandarkan sorban di pundak kirinya. Dirinya yang dengan sigap menolong Kiai Hasyim yang pingsan setelah shock mendengar kabar kejatuhan Kota Malang ke tangan musuh. Detik-detik kewafatan Kiai Hasyim yang ada dalam film Sang Kiai diadaptasi dari keterangan para saksi mata yang termuat dalam karya Abubakar Atjeh, “Sedjarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar” (1957), halaman 115-119.

Nama KH. Ghufron Faqih memang tidak sepopuler ulama Surabaya lain. Namun, kiprahnya tidak bisa diremehkan. Dalam Muktamar NU ke-15 yang digelar di Surabaya, 1940, namanya masuk dalam struktur Tanfidziyah HBNU bagian Dakwah bersama KH. A. Manaf Murtadlo.

Ketika Barisan Sabilillah dibentuk pada 7 Nopember 1945, dirinya ditunjuk sebagai pimpinan di Surabaya. Bersama Laskar Hizbullah dan kelaskaran lain, Kiai Ghufron bahu membahu mempertahankan Surabaya dari gempuran Sekutu. Sayangnya, tidak seperti Hizbullah yang sudah banyak diulas di beberapa buku, kiprah Barisan Sabilillah masih samar-samar dan tercecer di banyak buku.

Sejak awal November 1945, bersama para ulama lain, Kiai Ghufron yang lahir pada 1901 ini bermarkas di rumah Kiai Yasin, di Blauran Gang 1, Surabaya, di bawah komando Markas Besar Oelama Djawa Timur (MBODT). Di depan gang ini, kata Des Alwi dan Hario Kecik dalam memoarnya tentang Pertempuran Surabaya, setiap malam diadakan prosesi doa bersama dan pembagian air suwuk oleh para kiai yang diikuti para pejuang. Ketika markas ini dibom Sekutu, menjelang akhir November 1945, para ulama memindahkan markasnya di Waru, Sidoarjo. (Bangunan MBO alias Markas Besar Oelama yang puluhan tahun merana kini sudah dikelola oleh GP Ansor Jawa Timur, syukurlah!)

***

Bisa dibilang, para penggerak NU di kawasan Surabaya di era awal berdirinya, hingga era revolusi kemerdekaan, baik level HBNO maupun Ranting, merupakan “Jaringan Tebuireng”. Adik Kiai Ghufron, Rosyad namanya, bahkan menjadi sopir pribadi KH. A. Wahid Hasyim.

Dalam “Berangkat Dari Pesantren”, KH. Saifuddin Zuhri menyebut Rosyad, santri Tebuireng itu, yang kesana kemari mengendarai kuda besi Chevrolet Cabriolet milik Kiai Wahid Hasyim. Rosyad sekaligus menjadi kurir Kiai Wahid dalam komunikasi rahasia di antara jejaring yang dibina Kiai Wahid selama gerilya.

Selain Kiai Ghufron dan Rosyad, ada alumni Tebuireng lain, seperti KH. A. Manaf Murtadlo, KH. A. Aziz Diyar, KH. A. Wahab Turcham dan KH. Fattah Yasin. Nama terakhir ini pernah disekap Kempeitai gara-gara dicurigai bersikap anti-Jepang. Sikapnya memang keras dan blak-blakan, khas Arek Suroboyo. Bung Karno menyukainya gayanya ini dan tiga kali menunjuknya sebagai menteri. Bung Karno tahu kiprah Kiai Fattah muda sejak 1938, ketika alumni Tebuireng ini menjadi aktivis Ansor dan Gerindo alias Gerakan Rakyat Indonesia, partai politik yang lebih radikal dibandingkan dengan PNI maupun Parindra.

Baik Kiai Manaf Murtadlo, Kiai Aziz Diyar, Kiai Wahab Turcham maupun Kiai Fattah Yasin, merupakan para pendiri Madrasah Muallimat di Kawatan, Surabaya pada 1954, yang kelak berkembang menjadi Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah, Surabaya. Kini, lembaga pendidikan khusus kaum hawa yang didirikan oleh jaringan alumni Tebuireng ini menjadi salah satu yang terbaik di Surabaya. Menaungi Playgroup, TK, SD, SMP, SMA dan panti asuhan. Sedangkan nama KH. Ghufron Faqih, yang wafat pada 1950, diabadikan sebagai nama SD di kawasan Simokerto, Surabaya. Wallahu a’lam bisshawab

Di Bandara Soetta, Berjumpa Kiai yang Punya 200 Karya

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di Jombang, ada KH. A. Aziz Masyhuri (1942-2017), ulama yang telah menulis lebih dari 200 karya, baik berbahasa Arab maupun Indonesia. Beliau menguasai beragam cabang ilmu: dari fiqh, tafsir, tasawuf, dan lain-lain. Tak hanya itu, beliau juga jagoan Bahtsul Masail sejak muda. Ini di antara alasan KH. Bisri Syansuri, Rais Am Syuriah PBNU, sekaligus Pengasuh PP. Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, menjodohkannya dengan cucunya.

Di Kediri, tak jauh dari Jombang, ada KH. A. Yasin Asmuni. Kelahiran 1963, kiai ini menghasilkan tak kurang dari 200 karya tulis, 95% berbahasa Arab. Karyanya lintas disiplin ilmu: dari tafsir hingga fikih. Dari tasawuf hingga akidah, dan seterusnya. Di antara ciri khas karyanya, singkat, padat, praktis dan mudah dipahami.

Saya berjumpa dengan beliau di Bandara Soetta, kemarin petang. Beliau bersama KH. A. Sadid Djauhari, Pengasuh PP. As-Sunniyyah, Kencong Jember, sepulang dari acara Bahtsul Masail Pra Munas-Konbes NU 2020 di Pesantren Al-Falakiyah Pagentongan, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (02/03/20).

*

Dua tahun silam, ketika bertanya kepada penjual kitab dari Kediri, berapa total biaya yang dibutuhkan untuk memborong semua karya Kiai Yasin, dia menjawab, kurang lebih 3.700.000. Harga yang sepadan untuk menebus kurang lebih 200 karya beliau.

Saya kira, kemampuan seperti ini lahir karena tempaan dari para Masyayikh Lirboyo, maupun karena ketelatenannya dalam mengumpulkan referensi lantas mengolahnya menjadi karya otentik. Sebagai senior dalam kajian Bahtsul Masail di level Jawa Timur, maupun nasional, Kiai Yasin punya kemampuan analisis teks yang mumpuni yang disertai dengan ulasan panjang yang kece. Kebiasaan berdiskusi panjang disertai maraji’ komplit ini yang membuat kemampuan Kiai Yasin berkembang. Lebih mudahnya mungkin seperti ini, ada masyarakat bertanya, Kiai Yasin memberikan jawaban yang sangat panjang dan komplit, lalu dikembangkan lagi menjadi sebuah kitab.

Dari banyak karya Kiai Yasin, saya hanya punya beberapa. Di antaranya Tafsir Bismillahirrahmanirrahim, Tafsir Muawwidzatain, Tafsir Al-Ikhlas, dan Tafsir Ayat Kursi, serta Udhiyyah Ahkamuha wa Fadlailuha.

Selain karya yang berjibun, Kiai Yasin yang mengasuh PP. Hidayatut Thullab, Pethuk, Semen, Kediri, ini juga mempopulerkan “kitab makno Pethuk”.

Ini adalah jenis kitab kuning, tebal maupun tipis, klasik maupun kontemporer, yang sudah diberi makna gandul, sudah “sah-sahan”, penuh terjemahan antar baris (interlinear translation). Harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan kitab kosongan. Sampai saat ini, di beberapa koperasi pondok pesantren, biasanya juga menyediakan Kitab Makno Pethuk ini.

Profil ulama seperti Kiai Yasin Asmuni beserta karyanya ini harus dipopulerkan. Biar semakin banyak yang mengkaji karya beliau, dan “….biar umat tahu” (dalam istilah gaul ala Hijrah) jika ada ulama NU yang Istikamah bergerak mencerdaskan umat melalui karya-karyanya. Sehat selalu, kiai….

Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Beberapa tahun silam di Jember ada mualaf. Kabarnya mantan pemeluk Hindu. Dia sering bertamu ke beberapa tokoh agama dan bercerita soal hidayah yang dia raih. Sambil dengan halus minta fulus. Awalnya sih oke. Tapi kalau tiap bulan nodong “jatah” sembari mengandalkan status mualafnya, padahal secara fisik masih sehat dan kuat bekerja, berarti ada yang nggak beres.

Dan, benar, setelah ditelusuri, dia pengangguran. Kerjaannya hanya minta-minta dan tidurnya di hotel. Gileeee.

Kalau ada orang masuk Islam, saya senang. Ada saudara baru dalam keimanan. Harus diperlakukan dengan baik. Maklum, pendatang baru. Dihormati. Jangan heran kalau mualaf menjadi salah satu penerima zakat, meskipun di zaman Sayidina Umar, mekanismenya diperketat karena ada indikasi dijadikan modus ekonomis belaka.

Di era awal dakwah di Nusantara, para dai juga memilih pola dakwah top-down. Raja diislamkan dulu, agar rakyat bisa ikut. Ini pola di Samudera Pasai, Aceh, Malaka, Gowa-Tallo, dan kawasan Jaziratul Muluk (Maluku). Para raja mualaf ini kemudian banyak membantu syiar dakwah Islam di kawasan sekitar kerajaannya.

Saat ini pun konversi agama masih terjadi. Dari non-muslim ke Islam, begitu pula sebaliknya. Di kalangan artis, Dedy Corbuzier masuk Islam, setelah sebelumnya ada Lukman Sardi yang murtad. Ada juga Salmafina yang pindah agama, juga Roger Danuarta yang berikrar syahadat. Skor imbang lah, 2-2..hahaha…

Di wilayah lain juga banyak. Namun berbeda perlakuan. Ada yang menyambut baik para mualaf, sembari memberinya tempat untuk menceritakan kronologinya mendapatkan pencerahan atau hidayah, memberinya panggung berceloteh tanpa batas dan seterusnya. Padahal sudah seharusnya kita katakan “cukup” agar tidak nggladrah/nglantur menjelek-jelekkan agama lawasnya atau ngomong di luar kapasitas keilmuannya dan kapabilitasnya. Benar, kita katakan “Stop” atau “Wis, Cukup!” saja.

Sebab, kalau dikasih panggung orang begini rawan memicu masalah. Dia ngomongin kesalahan agama lamanya. Padahal dia juga bukan teolog, hanya orang awam. Akhirnya ngawur. Ya sama kalau orang murtad dikasih panggung di gereja, misalnya, dia bakal ngomongin Islam dengan cara yang salah. Akhirnya malah memicu masalah dan kesalahpahaman. Sebagaimana beberapa tahun silam, ada orang murtad ngaku bekas ulama, dikasih waktu buat ngoceh di gereja, akhirnya malah ngomong soal Islam versi dia. Padahal bohong semua.

Ada beberapa mualaf di Indonesia. Mereka ini saudara kita dalam iman. Jangan dikritik prosesnya menjadi mualaf, sebab itu layak diapresiasi, tapi kritik kelakuannya setelah menjadi muslim jika memang layak dikritik. Yahya Waloni, misalnya. Ini orang konyol, sedikit tampak tolol. Ya harus dikritik kalau dia bikin masalah, jangan malah diberi panggung untuk ceramah ngawurnya. Felix Siaw bagaimana? Mbuh lah.

Karena itu, saya angkat kopiah pada beberapa mualaf yang sadar diri dan tahu diri untuk berproses dan mendalami Islam secara matang dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk “menjadi”. Bukan makcling, bersyahadat, lantas diberi panggung untuk ceramah yang isinya ngelantur. Bisa berabe.

Karena itu, saya salut pada Syekh Mus’ab Luke Martin Penfound. Dia masuk Islam di awal 2000-an, lantas nyantri kepada Habib Umar bin Hafidz, Yaman, selama lebih dari 15 tahun. Mendalami Islam dari jalur sebenarnya, berproses sesuai dengan mekanisme yang ada, dan belajar berbagai fan keilmuan. Tidak terburu-buru menjadi “ulama”.

Kalau berguru pada jalur yang tepat hasilnya juga oke. Martin Lings, contoh lain, selain mempelajari bahasa Arab dan keilmuan Islam secara mendalam, dia juga berada pada jalur sufisme. Karena itu tangga keilmuannya juga bertahap sebab ada pembimbingnya di Tarekat Syadziliyah. Pemahaman keilmuan Islam, khususnya dalam Tarikh dan amaliah tarekatnya sama baiknya dengan pengetahuan mendalamnya terhadap naskah-naskah Shakespeare. Mengikuti pemikiran Abu Bakar Sirajuddin, nama muslim Lings, akan mempertautkan kita pada gagasan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad), filsuf perenial yang eksentrik itu.

Ada banyak mualaf berkelas yang menuangkan gagasamnya melalui karyanya. Khususnya dalam pergolakan batinnya maupun pendalamannya mengenai Islam. Tulisannya simpatik tanpa harus meracau keburukan agama lawasnya. Murad W. Hoffman, Leopold Weiss (Muhammad Asad, tafsir al-Qur’annya sangat bagus. Beli ke saya saja hahahaa), Maryam Jameela, hingga profesor cantik Ingrid Mattson yang renungan al-Qur’annya enak dinikmati itu.

Oke. Jika dirasa terlalu berat, kira menziarahi jalan hidup dua muallaf melalui otobiografinya. Kalau yang agak elegan bisa kita temukan dalam buku karya Prof. Jeffrey Lang, “Aku Beriman, Maka Aku Bertanya”. Lang adalah Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, yang menjadi muallaf setelah sekian lama mengajukan pertanyaan-gugatan kritis dalam teologi dan berbagai aspek hingga pada akhirnya dia mendapatkan hidayah. Tuturan dalam bukunya asyik, kritis, namun tidak ada cacimaki terhadap agama lawasnya.

Selain Lang, ada Kapten James “Yusuf” Yee juga menulis “For God and Country”. Buku bagus yang edisi Indonesianya dicetak dengan luks ini berkisah awalmula dirinya sebagai warga AS keturunan Tionghoa, masuk West Point–akademi militer bergengsi di AS, ditugaskan di Suriah, kemudian memeluk Islam. Setelah itu dia menghadapi berbagai masalah saat ditugaskan di Guantanamo dan harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari sesama rekan tentaranya, karena Yee–sebagai perwira AS–justru memperlakukan tahanan dengan baik. Yee memang tidak berkisah panjang lebar soal awal mula ketertarikannya dengan Islam, tapi cukup memadai untuk menggambarkan pergulatan batinnya hingga sampai pada hidayah dan kehidupannya di AS sebagai seorang keturunan Tionghoa sekaligus muslim.

Kalau dari jalur pemikir Salafi, ada Dennis Bradley Philips atau yang masyhur dengan nama Abu Ameenah Bilal Philips. Buku karya pria kelahiran Jamaika ini bagus dan layak diapresiasi secara ilmiah, sebab dia melewati jalur akademik untuk menjadi seorang ahli: mendalami bahasa dan fiqh di Univ. Raja Saud dan Universitas Madinah, setelah sebelumnya belajar bahasa Arab dengan baik.

***

Hidayah itu istimewa dan keimanan itu sangat esensial. Sebab pergulatan batin dan perjalanan menggapai hidayah itu seringkali menjadikan seseorang lebih dewasa bersikap dan bahkan lebih mendalam menjalankan ajaran agama barunya. Ikuti proses dan tahapan keilmuan yang ada, biar tidak menabrak pakem dan melantur kesana-kemari.

Kalaupun ada yang masih emosional, sensitif, kemudian menjual “kejelekan” agama lawas maupun ideologi lamanya ya anggap saja masih belum move on dan masih terbayang-bayang masa lalu. Melupakan mantan dan masa lalu, lantas fokus pada kenyataan sekarang itu memang sulit. Eh….