Toxic Friend: Mengapa Harus Dijauhi?

Toxic Friend: Mengapa Harus Dijauhi?

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Saya berteman dengan tipikal Toxic Friend di dunia nyata dan maya. Saya bersahabat, tapi menjaga jarak, biar tidak teracuni. Misalnya, seorang teman yang selalu menilai kesuksesan dan kebahagiaan berdasarkan materi. Ketika kami bertemu bersama sahabat lain, yang dibicarakan hanya seputar pencapaian materi. Pernah dalam sebuah acara buka puasa bersama, di hadapan para sahabat lain, dia nyelutuk, “Sampeyan itu seharusnya sudah beli mobil, masak kalah sama Mas X. Itu artinya sampeyan ini tidak fokus pada bisnis. Lihat tuh Mas X, sudah punya rumah dan mobil. Masak kalah sama dia.”

Gila. Di hadapan banyak orang dia membandingkan satu sahabat dengan sahabat lain berdasarkan pencapaian materi. Saya dan si Mas X yang jadi obyek perbandingan hanya bisa melongo. Nggak nyangka saja dia secara terbuka bilang begitu. Lantas, apa dia sudah punya mobil? Nggak. Dia punya rumah? Nggak juga, masih ngampung di mertua. Aneh saja mengukur dan mengomentari orang lain berdasarkan ukuran materi yang dia sendiri belum punya.

Orang kayak begini tipikal penebar racun persahabatan. Dia mengkomparasikan pencapaian dua sahabatnya, secara frontal, di hadapan para sahabat lainnya. Dia berusaha menularkan watak materialistisnya berdasarkan sangkaan terburu-buru. Ada obsesi dalam pikirannya, yang tidak mampu dia capai, dan kemudian dipakai menilai kesuksesan para sahabatnya. Padahal, alur kesuksesan dan kebahagiaan pada setiap orang berbeda-beda.

Ada dosen yang belum punya mobil, tapi dia mengejar karier akademiknya yang gemilang. Dia bahagia dengan pilihannya. Ada juga pegawai yang menunda punya mobil karena belum butuh dan dananya dipakai membeli sawah untuk tambahan nafkahnya, yang tentu saja kadang tidak dilihat sahabat lainnya. Ada juga yang menunda kebahagiaan materinya dengan cara mendahulukan biaya pendidikan anak-anaknya. Dia “berpuasa materi” demi buah hatinya. Dan, kelak, ketika dia “berbuka puasa materi”, dia lebih sigap membeli materi, maupun menambah aset pribadi yang dia wariskan kepada para buah hatinya.

Di dunia maya juga ada. Saya putuskan unfriend saja. Nirfaedah. Nggak kenal, tapi sok akrab dengan mengomentari beberapa hal yang bagi saya sensitif, atau menularkan jalan pikiran beracun. Mengapa saya anggap beracun? Saya cek, ketika saya dan para sahabat lain di FB mengunggah barang dagangan, yang dia tulis di kolom komentar, alih-alih mendukung, malah menebar racun. “Barang begini kok dijual. Ecek-ecek”, “Upload terus, nggak laku-laku kayaknya nih”, “Kasihan, nggak ada yang minat”, juga “Up…Up…Up… biar ada yang nengok. Mesakne nggak payu-payu”, dan komentar sengak lain, adalah yang saya ingat dari komentarnya di lapak dagangan para sahabat FB-nya. Bukan hanya satu orang yang dia komentari begini, melainkan hampir semua. Setidaknya ini yang saya jumpai.

Gila, nih! Mungkin maksudnya guyon tapi tetap saja melanggar etika. Dan, setahu saya, dia juga nggak pernah membeli dagangan sobatnya. Lantas, mengapa harus berteman di FB dengan model manusia begini. Unfriend saja.

Saya lebih asyik berteman dengan beberapa orang yang bisa memahami sahabat lainnya, baik dalam pilihan jalan hidupnya, atau dalam hal yang remeh temeh. Saya suka melihat Kakak Tamvan Yunan Anshory yang walaupun seringkali posting lucu-lucu di lapak FB-nya, tetapi ketika ada sahabatnya yang sedang sakit, atau sedang berduka, dia selalu serius–setidaknya ini yang saya cermati–menyampaikan belasungkawa, atau menuliskan kalimat simpatik. Salut sama kakak tamvan!

Satu musuh terlalu banyak, seribu sahabat masih terlalu sedikit, tapi dalam menjalin hubungan persahabatan ada aspek manusiawi yang saling berkorelasi. Ada unsur penghormatan dan saling memahami, juga saling menukarkan dan menularkan energi positif. Jangan sampai teracuni oleh watak negatif, pikiran pesimistik, dan unsur yang bisa merobohkan prinsip kita dan keasyikan kita menjadi sahabat yang baik bagi lainnya.

“Manusia Ruang”

“Manusia Ruang”

Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

“Guru, kami menghadiri pengajian di tempat lain, pengajian fiqh, tafsir, hadits, dan lainnya, tetapi mengapa rasanya berbeda dengan pengajian anda? Padahal anda hanya mengajarkan akhlak dan adab?” pertanyaan ini diajukan oleh seorang murid kepada gurunya, Syaikh Ali Daqar.

“Wahai anakku, kalau bukan karena perlu aku tidak akan berbicara mengenai hal ini. Begini, pengajian yang kamu dengar ini tidak ada apa-apanya jika bukan karena dukungan 10 juz al-Qur’an sebelum fajar yang aku niatkan semoga apa yang aku katakan bermanfaat bagi umat.”

Syekh Ali Daqar, siapa beliau ini? Masyarakat Hauran, perbatasan Suriah dan Yordania; dan orang-orang Damaskus menjulukinya sebagai “Pria yang digunakan Allah untuk menghidupkan umat.”

Syaikh Ali lah yang mulai menghidupkan hati umat pada saat ghirah keberagamaan umat Islam luntur akibat pergolakan politik dan kawasan Syam yang compang camping usai Perang Dunia I.

Syaikh Ali memang tidak bicara muluk-muluk dan tidak mengajarkan keilmuan yang berat kepada umat. Beliau mengajar dan mendidik umat dengan salah satu pilar terbesar Islam: Akhlak. Tapi yang lebih penting adalah rahasia di balik pengajarannya: beliau melumuri usaha pecerdasan ini dengan keberkahan 10 juz al-Qur’an menjelang fajar. Ini yang, saya kira, lebih penting. Kisah di atas dikisahkan oleh Prof. Musthafa Saied al-Khin yang dikutip oleh Ustadz Saef Alemdar, setahun silam, di dinding fesbuknya.

Para ulama senantiasa menyelesaikan urusan dirinya terlebih dulu sebelum mengurus orang lain, atau dalam istilah Emha Ainun Nadjib, “mereka yang telah selesai dengan dirinya sendiri”. Mereka terlebih dulu membebani dirinya dengan segala macam perilaku yang bisa memudahkan umat. Ibaratnya, mereka memanjat pohon kelapa, memetik buahnya, lalu mengolahnya dengan segenap kemampuannya. Tujuannya agar umatnya lebih mudah dan praktis menikmati olahannya. Mereka melihat umat dengan kacamata hakikat, sedangkan kepada dirinya sendiri mereka menerapkan standar syariat yang ketat.

Di Tebuireng, KH. Idris Kamali, salah seorang menantu KH. M. Hasyim Asy’ari, membuka kelas takhassus untuk mendidik para santri pilihan. Syaratnya berat, selain harus menghafal beberapa juz al-Qur’an juga harus hafal 1000 bait Alfiah Ibn Malik. Syarat lainnya, para santri pilihan ini harus senantiasa bermakmum shalat jamaah di belakang Kiai Idris. Apabila ketahuan bolos tidak berjamaah, maka gugurlah status santri takhassus ini. Di kemudian hari, para santri Kiai Idris menjadi ulama di daerah masing-masing: Prof. Ali Musthafa Ya’qub (Jakarta), Prof. Tolchah Hasan (Malang), KH. Zubaidi Muslih (Jombang), KH. Abdurrasyid Maksum (Jakarta), Prof. Dr. Jamaluddin Miri (Surabaya), KH. Ismail Makmun (Tegal), KH. Ishaq Latif (Tebuireng), KH. Syuhada Syarif (Jember, saking cintanya kepada sang guru, saat sang putra lahir beliau menamakan buah hatinya dengan nama Haidar Idris, semata-mata tabarrukan dan tafaulan kepada sang guru), KH. Said Aqil Siraj (berguru saat Kiai Idris bermukim di Makkah) dan sebagainya.

Di antara keistimewaan yang dimiliki oleh Kiai Idris Kamali ini, beliau tidak pernah mengajar santri kecuali setelah shalat sunnah beberapa rakaat dilanjut dengan mendoakan para santrinya. Ini belum termasuk riyadlah batiniyah lainnya. Kiai Idris menyelesaikan urusan dengan dirinya, karena itulah beliau fokus, sangat fokus, mencurahkan perhatiannya, ilmunya, dan riyadlahnya kepada para santri.

Di Solo, ada Kiai Umar Abdul Mannan, sang pecinta al-Qur’an, yang meminta dituliskan daftar nama santri nakal, bukan untuk dihukum, melainkan dibacakan satu persatu dalam munajat malamnya, dimohonkan keberkahan ilmu agar para santri mbeling kelak menjadi manusia yang bermanfaat.

Kiai Idris dan Kiai Umar, bagi saya, adalah wujud konsistensi seorang mentor yang menempa para kadernya dengan ketelatenan di atas rata-rata dan tanpa mau memamerkan dukungan ini kepada para kadernya, apalagi mengungkit-ungkit jasanya.Sebagaimana Brom, pencerita asal Carvahall, yang dengan telaten membimbing Eragon yang lugu menjadi penunggang naga yang lincah dan tangguh dalam epos “Eragon”, demikian juga dengan manusia-manusia mulia yang saya sebutkan di atas.

Di dunia ini ada banyak manusia mulia semacam Syekh Ali Daqar, Kiai Idris Kamali dan Kiai Umar Abdul Manan. Mereka adalah server ruhani yang tidak pernah mati, yang menyediakan diri sebagai tumpuan mereka agar koneksi jiwa para santri dan umat tetap terjaga. Mereka adalah “manusia ruang” yang menyediakan perabot dengan segala bentuknya berjejalan di dalamnya. Manusia ruang—dalam istilah Cak Nun– tidak membutuhkan tempat, melainkan justru menyediakan tempat bagi siapapun yang bernafas, butuh tempat, butuh lokasi bersandar, butuh bimbingan ruhani, butuh didengarkan, butuh kenyamanan dan “butuh lainnya”. Banyak orang yang tak menyediakan ruang bagi orang lain, karena dirinya dipenuhi hanya oleh dirinya sendiri, ia sekadar perabot yang tak bisa ditempai oleh perabot lain, dan justru hidup untuk berebut ruang bagi dirinya sendiri belaka.

Karena sudah menjadi “manusia ruang”, maka para tokoh yang saya sebutkan di atas lebih memprioritaskan pengosongan ruang hatinya lalu diisi dengan empati dan simpati. Soal falsafah kosong-mengosong ini, saya jadi ingat Markesot—yang saya anggap sebagai alter ego-nya Cak Nun dalam serial “Markesot Bertutur”. Tatkala Markesot belajar silat kepada pendekar Mataram, alih-alih diajari ilmu menggunakan tombak, dia malah dicekoki ilmu filosofi tombak.

“Semakin panjang tombak seseorang,” kata pendekar itu, “berarti makin rendah ilmunya. Orang yang lemah, memerlukan alat yang panjang, sepanjang mungkin untuk melindunginya. Orang yang agak sakti, cukup pendek saja tombak pelindungnya. Orang yang top kesaktiannya, tak memerlukan senjata. Ia cukup hidup dengan tangan kosong.”

Tangan kosong adalah tangan yang jujur dan apa adanya. Tangan yang tak menggenggam apa-apa, tak memiliki apa-apa, tak dibebani apa-apa. Justru karena itu, pendekar tangan kosong malah disegani, karena ia telah menyelesaikan urusan dengan dirinya, dengan egonya.

WAllahu A’lam

Istri Penggerak Ekonomi, Mengapa Tidak?

Istri Penggerak Ekonomi, Mengapa Tidak?

Bagikan sekarang

@ rijal mumazziq z

Sebelum jualan baju daring sejak 2019, istri saya minta izin. Apa boleh? Silahkan. Tapi labanya masuk ke kantong pribadiku, apa boleh? Lha monggo. Jatah belanja, baju dan kosmetik tetap ditanggung ayah ya? Lha mbok iyo, yang penting kamu senang dan menikmati aktivitas jualan. Benarlah, fulus suami adalah juga milik istri. Dan uang istri adalah milik dirinya. Ingat ya SUAMI alias Semua Uang Adalah Milik Istri. Hahahaha.

Alhamdulillah jualannya lancar. Omzetnya naik. Labanya meningkat. Saya hanya pesen tiga hal. Pertama, sibuk promo dan melayani pembeli silahkan, asal jangan lupakan kewajiban sebagai istri dan ibu. Kedua, sisihkan keuntungan, baik sedekah maupun zakat. Ketiga, dengan (latihan) cari uang sendiri, setidaknya bisa lebih siap andaikata suami wafat duluan. Dia bisa mandiri secara finansial. Mentalnya juga lebih siap menghadapi badai sepeninggal garwa-nya.

Perkara terakhir ini penting. Banyak istri yang saat ada suami hidupnya berkecukupan, dimanja secara finansial, tapi kelabakan saat suami sebagai sumber ekonominya wafat. Sebagian ambruk secara mental, tapi sebagian besar lagi bisa menjadi single parent yang tangguh. Belajar berdagang, daring maupun luring, atau bekerja di instansi negeri maupun swasta. Kerjakeras untuk kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Untuk para janda sekaligus ibu yang tangguh seperti ini saya selalu angkat peci. Salut atas kegigihan dan perjuangannya.

Karena itu ketika ada beberapa pemuka agama melarang secara mutlak perempuan bekerja, saya tidak setuju. Selain gebyah uyah, menggeneralisir tanpa paham konteks, juga meremehkan kiprah manusiawi perempuan sebagai sosok yang punya daya cipta, karsa, dan karya.

Ketika ada yang bilang ibu rumahtangga derajatnya lebih mulia dibanding wanita karier, nggak juga. Wanita karier dianggap menterlantarkan anak dan keluarga, nggak juga. Kawan-kawan saya, yang menjadi wanita karier degan ragam profesinya dan mapan di bidangnya, anak-anaknya juga tertata pendidikan dan akhlaknya, rumahtangganya juga stabil. Di sisi lain, banyak ibu rumahtangga yang memang tidak bekerja dengan beragam alasan, juga ruwet kehidupannya dan kocar-kacir pendidikan anak-anaknya. Walaupun tentu saja hal ini kasuistik. Tidak bisa digeneralisir. Ada banyak faktor penyebabnya.

Intinya, jika seorang perempuan, baik berstatus istri maupun single parent, diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya, disertai dengan tanggungjawab yang baik kepada keluarganya, niscaya dia bisa mengembangkan kekuatannya berkali-kali lipat dibandingkan pria.

Ada sebuah guyonan, jika perempuan itu makhluk lemah, lantas mengapa obat kuat hanya untuk pria? Hahaha. Perempuan itu makhluk yang sanggup menahan beban berkali lipat. Jika suami ditinggal wafat istri, biasanya akan mengalami beban psikologis dan biologis. Ada semacam degradasi alur kehidupan yang dia alami. Silahkan dicek, bertapa banyak tokoh besar yang semakin rapuh dan kariernya runtuh sepeninggal istrinya. Sebaliknya, ketika istri ditinggal wafat suami, dia cenderung bisa menahan diri untuk tidak menikah lagi, dan kekuatannya justru berlipat-lipat. Semacam bertiwikrama dalam legenda pewayangan. Kekuatan yang meningkat berkali kali lipat karena terdesak.

Anda bisa setuju atau tidak dengan pendapat saya di atas. Tapi, ketika melihat para yatim yang kemudian menjadi kampiun di bidangnya; Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, KH. Abdurrahman Wahid, Prof. BJ. Habibie, dua bersaudara Habib Ali Masyhur dan Habib Umar bin Hafidz, kita bisa melihat kiprah para perempuan berhati baja bertangan dingin mendidik dan melejitkan potensi buah hatinya tanpa didampingi suaminya.

Di dalam komunitas pesantren, beberapa ibunyai bahkan menjadi garda terdepan kemandirian ekonomi keluarga. Selain mendampingi suami mengasuh para santri, beliau-beliau memiliki manajemen keuangan dan keterampilan mengolah hasil pertanian dan perkebunan untuk pembangunan pondok. Di Lirboyo, Bu Nyai Dlomroh meminta Mbahyai Abdul Karim, pendiri pesantren besar ini, agar fokus mengajar dan riyadloh untuk santri. Bunyai-lah yang menjadi penggerak ekonomi keluarga. Manajer keuangan yang taktis dan terampil.

Di sisi lain, ada Nyai Sholihah Wahid Hasyim. Beliau ditinggal wafat suami dalam usia belum genap 30 tahun. Oleh KH. Bisri Syansuri, ayahnya, diminta kembali ke Jombang. Tapi Nyai Sholihah menolak dengan halus. Karena tekadnya membesarkan 6 buah hatinya di Jakarta hingga mencapai kesuksesan. Kelak, pahit di usia muda menjadi manis madu di usia senja. Enam anak Kiai Wahid Hasyim menjadi orang sukses di bidang masing-masing.

Di forum Webinar Kewirausahaan yang digelar Kemenpora RI bekerjasama dengan INAIFAS Kencong Jember, Senin 6 September 2021, dua orang narasumbernya perempuan. Masih muda, belum genap usia 40 tahun, tapi keduanya menjadi inspirasi para perempuan berkarya di bidang penguatan ekonomi.

Salah satunya, Ning Nisaul Kamilah, sahabat saya. Selain menjadi pengasuh pesantren di Pasuruan, dia menjadi novelis, motivator-sociopreneur, dan menggerakkan para perempuan agar mandiri secara ekonomi melalui jejaring Halaqoh Bisnis Online (HBO). Jejaring ini menghimpun ribuan kaum hawa, baik yang masih jomblo maupun sudah menikah, dalam peningkatan kualitas bisnis. Tak hanya peningkatan omzet, Ning Mila juga memberikan tips tazkiyatun nafs, dan wirid pelancar rezeki barakah dari para ulama.

Banyak di antara anggota HBO yang berhasil menempa mentalitasnya, dari yang awalnya minder, kini percaya diri. Dari yang mulanya miskin, kini berkecukupan. Dari yang awalnya hanya mendapat uang belanja dari suami, kini bisa membantu belahan jiwanya mengembangkan usaha. Yang pada asalnya terjebak menjadi pencari kerja, kini sudah menciptakan lapangan pekerjaan.

Saya senang melihat kreativitas yang dijalani ibu-ibu muda ini, yang digerakkan bunyai muda. Menghimpun diri walaupun belum pernah berjumpa, berjejaring secara rapi, bertukar ide, dan saling menopang untuk kemajuan diri. Pola demikian ini akan menjadi pilar ekonomi yang kadangkala tidak terlihat, namun cukup berpengaruh.

**

Keseksian perempuan bukan di tubuhnya, melainkan pada otaknya, dalam jalan pikirannya. Saya selalu suka melihat perempuan cerdas dan mandiri. Lembut tapi tegas. Luwes berkarakter. Bisa menyesuaikan diri dalam mendampingi suami, demikian pula sebaliknya. Suami yang bisa memahami potensi istrinya dan tidak merasa tersaingi dengan keberadaan belahan jiwanya. Saling mendukung dan menyempurnakan kekurangan.

Belajar Mencintai Indonesia

Belajar Mencintai Indonesia

Bagikan sekarang

Oleh Rijal Mumazziq Z (Rektor Institut Agama Islam al-Falah Assunniyyah [INAIFAS] Kencong Jember)

“Kalau negara lain menge­muka­kan kemakmuran dan kemerdekaan (prosperity and liberty) seba­gai tujuan, maka negara kita lebih menekankan prinsip keadil­an daripada prinsip kemerdekaan itu.”

(KH. Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita, hlm. 168)

            Ketika memproklamasikan kemerdekaan, 17 Agustus 1945, para pendiri bangsa mencita-citakan sebuah negara yang selain bebas dari penjajahan, juga memiliki asas ketaatan terhadap hukum, menjamin kemerdekaan beragama, berserikat, dan berpendapat, serta berdaulat secara ekonomi, politik, pertahanan. Konsep kedaulatan ini dituangkan dalam pasal-pasal UUD 1945.

            Hanya saja, tidak semudah itu menegakkan cita-cita mulia ini. Banyak hambatan yang dialami. Baik karena faktor eksternal, maupun internal. Perlu usaha sungguh-sungguh agar ide visioner itu tidak hanya menjadi tulisan di atas kertas saja.

            Ketika membicarakan kemerdekaan Indonesia, maka ada dua hal yang pantas kita cermati. Pertama, kemerdekaan ini ada karena jerih payah pendahulu kita, lintas suku dan etnis, serta lintas agama. Mereka menihilkan sekat perbedaan, mengupayakan persatuan untuk menyongsong kemerdekaan, dan mewariskan hal berharga ini kepada kita. Kedua, kita memang tidak ikut berjuang secara fisik pada saat negara ini didirikan, maka menjadi kewajiban bagi kita mempertahankannya serta mengisinya agar cita-cita para pendiri bangsa dan para pejuang bisa diwujudkan. Mencintai Indonesia tidak membutuhkan dalil. Karena ini perkara asasi. Kalaupun ada yang menanyakan dalilnya, kita jawab, dalilnya sudah berulang kali disebutkan di dalam QS.Ar-Rahman, yaitu Fabiayyi ala-I Rabbikuma Tukadzdziban? Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kemerdekaan adalah sebuah nikmat dari Allah. Anugerah dari-Nya yang selain wajib kita syukuri, juga kita isi dengan aktivitas yang bermanfaat, agar kita tidak menjadi hamba-Nya yang kufur nikmat.

            Berbicara soal tujuan kemerdekaan dan aktivitas mengisinya, menarik apabila dalam hal ini kita menengok doa Nabiyullah Ibrahim alaihissalam yang diabadikan oleh Allah di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 126:

وَ إِذْ قالَ إِبْراهيمُ‏ رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَداً آمِناً وَ ارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ قالَ وَ مَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَليلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلى‏ عَذابِ النَّارِ وَ بِئْسَ الْمَصير

Dan( ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman:” Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”

Doa yang hampir sama dimunajatkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam di dalam QS. Ibrahim [14]: 35:

وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”

Ada satu aspek menarik yang pantas kita cermati dalam doa di atas. Yaitu Nabi Ibrahim  mendahulukan doa untuk keamanan negerinya, lantas disambung dengan kemakmuran penduduknya, kemudian dilanjutkan dengan permohonan agar Allah meneguhkan keimanan penduduknya, beserta anak cucu beliau.

Dalam Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli menjelaskan apabila doa ini dikabulkan oleh Allah dengan menjaga negeri Nabi Ibrahim alaihissalam, yaitu Makkah, sebagai sebuah tanah yang suci, yang tiada seorang-pun boleh dianiaya apalagi ditumpahkan darah di dalamnya, tiada satupun hewan yang boleh diburu, apalagi dirusak alamnya. Syihabuddin Al-Alusi, dalam Ruh al-Ma’ani, juga menandaskan, doa utama Nabi Ibrahim alaihissalam mengandung dua prioritas, keamanan dan kesejahteraan penduduknya.

            Ayat di atas juga menjadi bukti apabila para Rasul senantiasa mencintai tanah airnya. Sebagaimana Makkah yang berbarakah lantaran doa Nabi Ibrahim, Madinah al-Munawwarah juga dinaungi keberkahan lantaran doa Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Maka tidak heran jika hingga saat ini pun para ulama juga mengikuti langkah keduanya, yaitu senantiasa mendoakan keberkahan tanah airnya. Dalam setiap khutbah kedua menjelang shalat Jumat, selalu diselipkan doa bagi Indonesia dan bagi negeri muslim lainnya. Lagipula, di Indonesia, semakin sepuh usia seorang ulama, semakin sering beliau-beliau menyampaikan ceramah pentingnya mencintai Islam sekaligus mencintai Indonesia. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Islam adalah ruh, Indonesia adalah jasad. Saling menopang. Setidaknya ini bisa kita cermati dalam ceramah almaghfurlah KH. Maimoen Zubair, KH. A. Mustofa Bisri, KH. Miftachul Akhyar, KH. A. Mustofa Bisri, dan ulama lain.

***

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, maka kita bersyukur apabila selama ini keamanan dan ketertiban negeri ini bisa dijalankan dengan baik, walaupun tentu saja masih ada kekurangan di sana sini. Ketika sebuah negara memiliki keamanan yang stabil, maka penduduknya bisa meningkatkan kesejahteraan ekonominya, menyalurkan aspirasi politiknya dengan baik, dan bisa menikmati akses pendidikan dengan baik pula.

            Aspek stabilitas keamanan ini belum kita jumpai di beberapa negara muslim di kawasan lain. Di Afganistan, Suriah, dan Libya, ketika terjebak perang saudara, maka fokus penduduknya tidak lagi pada peningkatan kesejahteraan, melainkan pada mempertahankan diri dan pemulihan keamanan. Anak-anak tidak lagi mendapatkan akses pendidikan yang layak, orangtua juga tidak bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Sebab, selain kekhawatiran menjadi korban kekerasan bersenjata, mereka merasa tidak aman. Jika sudah tidak merasa aman, maka pikiran juga tidak tenang. Jika pikiran kalut, maka bagaimana bisa diharapkan bisa nyaman di dalam belajar dan menjalani kehidupan.

            Di sinilah pentingnya kita menikmati kemerdekaan. Memang, tidak ada negara yang secara ideal bisa menyelenggarakan cita-cita mereka, namun secara lebih realistis Indonesia bisa memiliki tiga ciri sebuah negara damai: kemerdekaan berserikat dan berpendapat, akses pendidikan bagi penduduknya, dan peningkatan kualitas ekonomi warganya.

Diabadikannya doa Nabi Ibrahim alaihissalam di dalam dua ayat di atas, menjadi ibrah bagi kita, betapa pentingnya menjaga keamanan dan ketentraman sebuah negeri. Jangan sampai penduduknya saling bermusuhan, jangan lagi ada upaya memecah belah bangsa ini, dan kita berharap apabila setelah keamanan ini terpenuhi, maka Indonesia bisa menjadi sebuah negara sejahtera, sebagaimana indikator dalam doa Nabi Ibrahim alaihissalam di atas.

Kesejahteraan sebuah negara, antara lain, bisa dilihat dalam indeks kualitas sumberdaya manusianya dan income perkapita. Saat ini, tingkat pendidikan warga Indonesia semakin naik. Akses meraih beasiswa semakin variatif. Walaupun kue kesejahteraan masih dinikmati sebagian orang superkaya di Indonesia, namun kita bersyukur apabila peluang peningkatan kesejahteraan ekonomi bisa lebih terbuka saat ini. Hal ini bisa dilihat melalui semakin variatifnya cara “nggolek duwit” setelah merebaknya media sosial. Saat ini, anak-anak muda tidak lagi terpaku pada pekerjaan formal, melainkan lebih terbuka pada kerja kreatif yang cerdas. Menjadi vlogger, desainer freelance, youtuber, hingga pebisnis daring. Generasi ini tidak lagi “diatur oleh jadwal”, melainkan “membuat jadwal tersendiri”, tidak lagi menjadi karyawan bagi orang lain, melainkan menjadi majikan bagi diri sendiri. Lebih kreatif, inovatif, dan independen. Dulu, untuk mencapai derajat kemakmuran ekonomi, setidaknya minimal usia 30 tahun. Namun, saat ini bisa kita lihat anak-anak muda kreatif ini bisa mengembangkan bisnisnya sesuai dengan minat dan talentanya. Mereka menjadi tajir bahkan di bawah usia 30 tahun. Dulu, ibu rumahtangga tidak memiliki aktivitas sampingan. Namun hingga kini marketplace yang bervariasi rata-rata digerakkan oleh ibu-ibu muda yang bisa mengembangkan bisnisnya secara daring.

Saat ini, memang tidak perlu terjebak pada romantisme historis, melainkan pada upaya mengisi kemerdekaan Indonesia dengan baik. Yang sudah ada, kita pertahankan. Yang belum beres, kita perbaiki. Yang belum terealisasi, kita wujudkan. Yang sudah mapan, tidak usah dibongkar. Hanya dengan cara ini kita bisa membantu membumikan doa Nabi Ibrahim alaihissalam di tanah air tercinta, stabilitas keamanan, kesejahteraan yang membaik, dan iman penduduknya yang kokoh. Dengan cara ini, sebagaimana kata Gus Dur di awal tulisan ini, keadil­an bisa diwujudkan.

Kalaupun saat ini ada keluhan dan cacimaki atas kondisi Indonesia yang ironisnya dilontarkan oleh warganya, yang hanya berpikiran negatif atas tanah airnya, maka saya teringat dengan kalimat yang dilontarkan KH. Chamim Djazuli (Gus Miek) kepada Gus Dur, pada suatu ketika, “…Indonesia masih baik-baik saja, Gus. Yang belum baik itu, saya dan anda….”

Wallahu A’lam Bisshawab

Dirgahayu, Indonesia-Ku!

“Artikel ini telah dimuat di Majalah Madrasatul Qur’an Times Tebuireng, edisi Juli-September 2021”

Prof. Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi: Perpustakaan Berjalan

Prof. Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi: Perpustakaan Berjalan

Bagikan sekarang

@Rijal Mumazziq Z

Alhamdulillah, saya berguru ke beliau saat kuliah S1 dan S2 di UIN Sunan Ampel Surabaya. Sering pula sowan ke ndalemnya yang waktu itu ada di Wonokromo Surabaya. Beliau mengajar kelas kami mata kuliah Fiqh Siyasah dan Sejarah Peradaban Islam. Bahasa lisan dan tulisannya sama-sama bagusnya. Referensi yang beliau gunakan juga komplit: Indonesia, Arab dan Inggris. Maklum, alumni pesantren yang kemudian melanjutkan pendidikan strata duanya di Universitas McGill Kanada. Perpaduan kiai dan akademisi.

Saat mengajar, jika menjelaskan sesuatu secara lisan, beliau menyebut salah satu rujukan buku secara lengkap: nama penulis judul, penerbit, hingga daftar halamannya pula! Tak heran jika kami menjuluki beliau perpustakaan berjalan.

Di S1 pula, saya juga diajar beliau materi Filsafat Islam, dimana kewajiban kami saat itu meresensi buku “PARA PENCARI TUHAN: Dialog Al-Quran, Filsafat dan Sains dalam Bingkai Keimanan” karya Syaikh Nadim al-Jisr. Buku yang bagus dan bermutu. Menyajikan dialog-dialog filosofis tentang sains dan teologi. Yang asyik, beliau memberi Nilai A+ dan hadiah Rp 100.000 bagi beberapa resensi yang bagus. Saya dapat keduanya. Lumayan, nominal itu cukup buat makan dan ngopi seminggu.

Di S2 pada kampus yang sama, saya diajar beliau Ushūl Fiqh. Waktu itu saya diberi tugas menulis makalah pemikiran Dr. Ahmad Arraysūnī, pakar Ushūl Fiqh Maroko, yang dijuluki “juru bicara” Abū Ishāq Asy-Syathibī, peletak rancang bangun konsep Maqāshid Asy-Syarī’ah.

Awalnya, materi Ushūl Fiqh diasuh Prof. Dr. KH. Sjechul Hadi Permono, pakar zakat dan waris itu. Namun setelah wafatnya beliau, MK ini diampu oleh Prof Mawardi.

Waktu itu pula, pada 2011, buku karya Prof. Mawardi terbit. Judulnya “FIQH MINORITAS ; Fiqh Al-Aqalliyyāt dan Evolusi Maqāshid al-Syarī‘ah dari Konsep ke Pendekatan” yang diterbitkan LKiS Yogyakarta. Isinya mantab betul! Waktu itu, kami diminta untuk mendiskusikan buku tersebut di kelas, dan juga diminta oleh Prof. Mawardi untuk memberikan masukan dan kritik atas buku yang beliau tulis di atas. Sebuah pertanggungjawaban ilmiah yang menarik!

Selain tugas makalah, Prof. Mawardi juga meminta kami membaca dan menulis resensi atas novel karya budayawan-sastrawan Prof. Kuntowijoyo. Judulnya, “Impian Amerika”. Novel budaya yang asyik. Mengisahkan kurang lebih 30 orang diaspora Indonesia yang datang ke New York dengan tujuan masing-masing. Syakir dari Aceh, Suleman dari Madura, Sukiman dari Yogyakarta, dan sebagainya. Adaptasi budaya dan kecermatan dalam mempertahankan prinsip keIndoensiaan dirangkai dengan baik oleh Prof. Kuntowijoyo.

Tahun 2018, bulan April, acara diskusi dan pelatihan Metodologi Islam Nusantara digelar di Pesantren Alif Laam Min, Surabaya, yang diasuh Prof. Mawardi. Beliau bukan saja bertindak sebagai tuan rumah yang baik, melainkan juga sebagai pemateri yang ciamik. Kalau menyampaikan ulasan, walaupun tetap akademis dan ilmiah, Prof. Mawardi selalu menyelipkan dua kategori humor untuk menertawakan diri sendiri: joke tentang santri dan ledekan tentang orang Madura. Dua kategori yang melekat pada diri beliau.

Saya masih ingat dalam acara Pelatihan Metodologi Islam Nusantara tersebut, beliau menyampaikan joke orang Madura kaya yang sedang berada di restoran Eropa. Dia melihat tikus berkeliaran di sekitar meja. Karena lupa bahasa Inggris-nya tikus, tapi ingat sosok Jerry dalam serial kartun Tom and Jerry, akhirnya dengan percaya diri dan logat Madura yang kental, dia bilang ke pelayan, “Excuse me. There is Jerry here!” sembari menuding tikus di pojokan.

28 Januari 2020 silam, INAIFAS Kencong Jember mengundang beliau untuk menjadi pemateri dalam Studium Generale. Dalam kondisi yang masih capek setelah mengisi seminar di Turki, beliau langsung ke Kencong, Jember, memberi motivasi bagi adik adik mahasiswa. Penyampaiannya tetap menarik, sistematis, kaya data dan referensi, dan tentu saja humoris. Gestur tubuhnya juga khas saat memotivasi: berdiri, ekspresi wajah yang mendukung, juga berjalan kesana-kemari. Perpaduan komplit retorika ala mubalig dan kecerdasan akademisi. Lucu tapi penuh data!

Sebagai murid, tentu saya bersedih kehilangan sosok guru multitalenta seperti beliau. Namun melihat kiprahnya di dunia pendidikan dan dakwah, saya lega. Karena ilmu yang beliau berikan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Pesantren Alif Lam Mim yang beliau dirikan juga menjadi prasasti kepeduliannya atas pengembangan dakwah Islam berbasis pesantren di Kota Metropolitan Surabaya.

Selamat jalan, guruku. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, menaungi alam kubur beliau dengan cahaya al-Qur’an dan shalawat…lahul Fatihah