Perempuan Ahli Hadits asal Indonesia

Perempuan Ahli Hadits asal Indonesia

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di dalam ‘Iqdul Faridtsabat alias catatan matarantai keilmuan yang disusun oleh Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, terdapat satu nama yang mencorong. Ulama di jalur transmisi pengajaran Shahih Bukhari yang diterima Syekh Yasin semua laki-laki, tapi dia sendirian. Dia perempuan, namanya Syaikhah Fatimah binti Abdusshamad al-Falimbani. Ya, nama ini ada di urutan ke-lima dari bawah.

Persisnya, (1) Syaikh Yasin Al-Fadani mendapatkan sanad Shahih Bukhari dari (2). Syaikh Abdul Karim bin Ahmad Khatib bin Abdil Lathif bin Muhammad Ali bin Ahmad Al-Minangkabawi; beliau menerima dari: (3). Al-Allamah As-Syaikh Ahmad bin Abdil Latif Al-Khatib Al-Minangkabawi; dimana beliau belajar kepada: (4). Syaikh Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi.

Mahaguru ulama Nusantara ini menerima dari: (5.) Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad Al-Falimbani; beliau menerima dari ayahnya, yaitu (6). Syaikh Abdusshamad bin Abdirrahman Al-Falimbani; beliau menerima dari: (7). As-Syaikh ‘Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far Al-Falimbani; beliau menerima dari gurunya, dimana gurunya juga menerima sanad ini dari gurunya dan seterusnya hingga ke Imam Bukhari.

Transmisi ilmu ini penting. Sangat penting. Karena itu setiap ulama biasanya mencatat matarantai keilmuan yang dia terima. Agar jelas gurunya, bersambung kepada gurunya, hingga ke penulis kitab.

Sanad seperti ini memegang peranan penting karena sanad adalah semacam jaminan bahwa keilmuan kita didapatkan dari pemegang otoritas agama itu sendiri. Bukan suatu yang didapatkan secara sembarangan. Inilah yang membedakan antara ajaran Islam dengan keilmuan yang lain.

Hebatnya, nama perempuan ini menyembul di antara nama para jawara di bidang hadits. Nisbat daerahnya bukan al-Bashri (Irak), al-Ashfihani (Persia), Al-Makki (Hijaz), atau az-Zabidi (Yaman), melainkan al-Falimbani alias Palembang. Ini membuktikan kepercayaan dirinya sebagai seorang perempuan yang mau berusaha keras mendalami keilmuan hadits, serta didukung oleh ayahnya, Syekh Abdusshamad al-Falimbani, seorang mujahid, mursyid, sufi, dan penulis produktif.

Meski kultur patriarkhis sangat kuat, namun Fathimah yang hidup di abad ke 19 enggan menolak konstruksi sosial budaya ini. Dia dididik oleh ayahnya, dan mewarisi kekayaan intelektual yang dia peroleh dengan kerja keras hingga mendapat gelar prestisius, Syaikhah, alias guru besar perempuan.

Saya juga kagum dengan para ulama yang enggan mengurung anaknya di ruang belakang dengan alasan “perempuan hanya konco wingking”. Syekh Abdusshamad al-Falimbani memang pengecualian itu. Beliau mendidik putrinya dengan caranya sendiri di tengah budaya Arab (karena beliau hidup di Mekkah) yang sangat kuat cengkraman patriarkhisnya.

Saya jadi ingat dengan penjelasan Ustadz Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam Sekolah Islam Nusantara, April 2018 silam di Pesantren Alif Lam Mim, Surabaya, tentang ulama perempuan di dunia Islam.

Filolog muda ini menjelaskan apabila pada abad keempat belas Hijriyah atau abad ke sembilan belas Masehi, ulama perempuan ahli hadits di dunia Islam itu hanya tiga.

Pertama, Syaikhah Ummatullah binti ‘Abd al-Ghani al-Dahlawi, Delhi, India. Kedua, Syaikhah Fathimah binti Ya’qub al-Makki dari Mekkah. Dan ,ketiga, tentu saja Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad al-Shamad al-Falimbani.

Selain Syaikhah Fathimah binti Abdusshamad ini, ada juga Syaikhah Khairiyah binti Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari. Nama terakhir ini bermukim lama di Mekkah, mendirikan madrasah khusus cewek, kemudian pada tahun 1950-an kembali ke tanah air, karena kecintaannya terhadap kampung halamannya di Jombang.

Di sini jelas, ulama sekaliber Syekh Abdusshamad al-Falimbani dan Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mendorong putrinya agar setara di bidang keilmuan dengan kaum laki-laki. Setara di hadapan pengetahuan dan tidak ada perbedaan kelamin dalam kontribusi menyebarkan ilmu.Sekilas poin yang saya sampaikan dalam Sekolah Islam Gender (SIG) yang diselenggarakan oleh Kopri PMII Fak Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember, Jumat, 5 Maret 2020/11 Rajab 1441 H

Kiai Ghufron Faqih dan Jejaring Tebuireng di Surabaya

Kiai Ghufron Faqih dan Jejaring Tebuireng di Surabaya

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Ketika Kota Malang jatuh ke tangan Sekutu, 23 Juli 1947, Bung Tomo mengurus dua kurir menyampaikan kabar ini kepada KH. M. Hasyim Asy’ari. Saat itu, Kiai Hasyim sedang ngobrol dengan KH. Adlan Aly dan KH. Ghufron Faqih, pimpinan Barisan Sabilillah Surabaya.

Di film Sang Kiai (2013), sosok Kiai Ghufron digambarkan berambut ikal, berpeci hitam rapi, dengan menyandarkan sorban di pundak kirinya. Dirinya yang dengan sigap menolong Kiai Hasyim yang pingsan setelah shock mendengar kabar kejatuhan Kota Malang ke tangan musuh. Detik-detik kewafatan Kiai Hasyim yang ada dalam film Sang Kiai diadaptasi dari keterangan para saksi mata yang termuat dalam karya Abubakar Atjeh, “Sedjarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar” (1957), halaman 115-119.

Nama KH. Ghufron Faqih memang tidak sepopuler ulama Surabaya lain. Namun, kiprahnya tidak bisa diremehkan. Dalam Muktamar NU ke-15 yang digelar di Surabaya, 1940, namanya masuk dalam struktur Tanfidziyah HBNU bagian Dakwah bersama KH. A. Manaf Murtadlo.

Ketika Barisan Sabilillah dibentuk pada 7 Nopember 1945, dirinya ditunjuk sebagai pimpinan di Surabaya. Bersama Laskar Hizbullah dan kelaskaran lain, Kiai Ghufron bahu membahu mempertahankan Surabaya dari gempuran Sekutu. Sayangnya, tidak seperti Hizbullah yang sudah banyak diulas di beberapa buku, kiprah Barisan Sabilillah masih samar-samar dan tercecer di banyak buku.

Sejak awal November 1945, bersama para ulama lain, Kiai Ghufron yang lahir pada 1901 ini bermarkas di rumah Kiai Yasin, di Blauran Gang 1, Surabaya, di bawah komando Markas Besar Oelama Djawa Timur (MBODT). Di depan gang ini, kata Des Alwi dan Hario Kecik dalam memoarnya tentang Pertempuran Surabaya, setiap malam diadakan prosesi doa bersama dan pembagian air suwuk oleh para kiai yang diikuti para pejuang. Ketika markas ini dibom Sekutu, menjelang akhir November 1945, para ulama memindahkan markasnya di Waru, Sidoarjo. (Bangunan MBO alias Markas Besar Oelama yang puluhan tahun merana kini sudah dikelola oleh GP Ansor Jawa Timur, syukurlah!)

***

Bisa dibilang, para penggerak NU di kawasan Surabaya di era awal berdirinya, hingga era revolusi kemerdekaan, baik level HBNO maupun Ranting, merupakan “Jaringan Tebuireng”. Adik Kiai Ghufron, Rosyad namanya, bahkan menjadi sopir pribadi KH. A. Wahid Hasyim.

Dalam “Berangkat Dari Pesantren”, KH. Saifuddin Zuhri menyebut Rosyad, santri Tebuireng itu, yang kesana kemari mengendarai kuda besi Chevrolet Cabriolet milik Kiai Wahid Hasyim. Rosyad sekaligus menjadi kurir Kiai Wahid dalam komunikasi rahasia di antara jejaring yang dibina Kiai Wahid selama gerilya.

Selain Kiai Ghufron dan Rosyad, ada alumni Tebuireng lain, seperti KH. A. Manaf Murtadlo, KH. A. Aziz Diyar, KH. A. Wahab Turcham dan KH. Fattah Yasin. Nama terakhir ini pernah disekap Kempeitai gara-gara dicurigai bersikap anti-Jepang. Sikapnya memang keras dan blak-blakan, khas Arek Suroboyo. Bung Karno menyukainya gayanya ini dan tiga kali menunjuknya sebagai menteri. Bung Karno tahu kiprah Kiai Fattah muda sejak 1938, ketika alumni Tebuireng ini menjadi aktivis Ansor dan Gerindo alias Gerakan Rakyat Indonesia, partai politik yang lebih radikal dibandingkan dengan PNI maupun Parindra.

Baik Kiai Manaf Murtadlo, Kiai Aziz Diyar, Kiai Wahab Turcham maupun Kiai Fattah Yasin, merupakan para pendiri Madrasah Muallimat di Kawatan, Surabaya pada 1954, yang kelak berkembang menjadi Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Khadijah, Surabaya. Kini, lembaga pendidikan khusus kaum hawa yang didirikan oleh jaringan alumni Tebuireng ini menjadi salah satu yang terbaik di Surabaya. Menaungi Playgroup, TK, SD, SMP, SMA dan panti asuhan. Sedangkan nama KH. Ghufron Faqih, yang wafat pada 1950, diabadikan sebagai nama SD di kawasan Simokerto, Surabaya. Wallahu a’lam bisshawab

Di Bandara Soetta, Berjumpa Kiai yang Punya 200 Karya

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di Jombang, ada KH. A. Aziz Masyhuri (1942-2017), ulama yang telah menulis lebih dari 200 karya, baik berbahasa Arab maupun Indonesia. Beliau menguasai beragam cabang ilmu: dari fiqh, tafsir, tasawuf, dan lain-lain. Tak hanya itu, beliau juga jagoan Bahtsul Masail sejak muda. Ini di antara alasan KH. Bisri Syansuri, Rais Am Syuriah PBNU, sekaligus Pengasuh PP. Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, menjodohkannya dengan cucunya.

Di Kediri, tak jauh dari Jombang, ada KH. A. Yasin Asmuni. Kelahiran 1963, kiai ini menghasilkan tak kurang dari 200 karya tulis, 95% berbahasa Arab. Karyanya lintas disiplin ilmu: dari tafsir hingga fikih. Dari tasawuf hingga akidah, dan seterusnya. Di antara ciri khas karyanya, singkat, padat, praktis dan mudah dipahami.

Saya berjumpa dengan beliau di Bandara Soetta, kemarin petang. Beliau bersama KH. A. Sadid Djauhari, Pengasuh PP. As-Sunniyyah, Kencong Jember, sepulang dari acara Bahtsul Masail Pra Munas-Konbes NU 2020 di Pesantren Al-Falakiyah Pagentongan, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (02/03/20).

*

Dua tahun silam, ketika bertanya kepada penjual kitab dari Kediri, berapa total biaya yang dibutuhkan untuk memborong semua karya Kiai Yasin, dia menjawab, kurang lebih 3.700.000. Harga yang sepadan untuk menebus kurang lebih 200 karya beliau.

Saya kira, kemampuan seperti ini lahir karena tempaan dari para Masyayikh Lirboyo, maupun karena ketelatenannya dalam mengumpulkan referensi lantas mengolahnya menjadi karya otentik. Sebagai senior dalam kajian Bahtsul Masail di level Jawa Timur, maupun nasional, Kiai Yasin punya kemampuan analisis teks yang mumpuni yang disertai dengan ulasan panjang yang kece. Kebiasaan berdiskusi panjang disertai maraji’ komplit ini yang membuat kemampuan Kiai Yasin berkembang. Lebih mudahnya mungkin seperti ini, ada masyarakat bertanya, Kiai Yasin memberikan jawaban yang sangat panjang dan komplit, lalu dikembangkan lagi menjadi sebuah kitab.

Dari banyak karya Kiai Yasin, saya hanya punya beberapa. Di antaranya Tafsir Bismillahirrahmanirrahim, Tafsir Muawwidzatain, Tafsir Al-Ikhlas, dan Tafsir Ayat Kursi, serta Udhiyyah Ahkamuha wa Fadlailuha.

Selain karya yang berjibun, Kiai Yasin yang mengasuh PP. Hidayatut Thullab, Pethuk, Semen, Kediri, ini juga mempopulerkan “kitab makno Pethuk”.

Ini adalah jenis kitab kuning, tebal maupun tipis, klasik maupun kontemporer, yang sudah diberi makna gandul, sudah “sah-sahan”, penuh terjemahan antar baris (interlinear translation). Harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan kitab kosongan. Sampai saat ini, di beberapa koperasi pondok pesantren, biasanya juga menyediakan Kitab Makno Pethuk ini.

Profil ulama seperti Kiai Yasin Asmuni beserta karyanya ini harus dipopulerkan. Biar semakin banyak yang mengkaji karya beliau, dan “….biar umat tahu” (dalam istilah gaul ala Hijrah) jika ada ulama NU yang Istikamah bergerak mencerdaskan umat melalui karya-karyanya. Sehat selalu, kiai….

Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Catatan Seputar Mualaf: dari Yahya Waloni hingga Martin Lings

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Beberapa tahun silam di Jember ada mualaf. Kabarnya mantan pemeluk Hindu. Dia sering bertamu ke beberapa tokoh agama dan bercerita soal hidayah yang dia raih. Sambil dengan halus minta fulus. Awalnya sih oke. Tapi kalau tiap bulan nodong “jatah” sembari mengandalkan status mualafnya, padahal secara fisik masih sehat dan kuat bekerja, berarti ada yang nggak beres.

Dan, benar, setelah ditelusuri, dia pengangguran. Kerjaannya hanya minta-minta dan tidurnya di hotel. Gileeee.

Kalau ada orang masuk Islam, saya senang. Ada saudara baru dalam keimanan. Harus diperlakukan dengan baik. Maklum, pendatang baru. Dihormati. Jangan heran kalau mualaf menjadi salah satu penerima zakat, meskipun di zaman Sayidina Umar, mekanismenya diperketat karena ada indikasi dijadikan modus ekonomis belaka.

Di era awal dakwah di Nusantara, para dai juga memilih pola dakwah top-down. Raja diislamkan dulu, agar rakyat bisa ikut. Ini pola di Samudera Pasai, Aceh, Malaka, Gowa-Tallo, dan kawasan Jaziratul Muluk (Maluku). Para raja mualaf ini kemudian banyak membantu syiar dakwah Islam di kawasan sekitar kerajaannya.

Saat ini pun konversi agama masih terjadi. Dari non-muslim ke Islam, begitu pula sebaliknya. Di kalangan artis, Dedy Corbuzier masuk Islam, setelah sebelumnya ada Lukman Sardi yang murtad. Ada juga Salmafina yang pindah agama, juga Roger Danuarta yang berikrar syahadat. Skor imbang lah, 2-2..hahaha…

Di wilayah lain juga banyak. Namun berbeda perlakuan. Ada yang menyambut baik para mualaf, sembari memberinya tempat untuk menceritakan kronologinya mendapatkan pencerahan atau hidayah, memberinya panggung berceloteh tanpa batas dan seterusnya. Padahal sudah seharusnya kita katakan “cukup” agar tidak nggladrah/nglantur menjelek-jelekkan agama lawasnya atau ngomong di luar kapasitas keilmuannya dan kapabilitasnya. Benar, kita katakan “Stop” atau “Wis, Cukup!” saja.

Sebab, kalau dikasih panggung orang begini rawan memicu masalah. Dia ngomongin kesalahan agama lamanya. Padahal dia juga bukan teolog, hanya orang awam. Akhirnya ngawur. Ya sama kalau orang murtad dikasih panggung di gereja, misalnya, dia bakal ngomongin Islam dengan cara yang salah. Akhirnya malah memicu masalah dan kesalahpahaman. Sebagaimana beberapa tahun silam, ada orang murtad ngaku bekas ulama, dikasih waktu buat ngoceh di gereja, akhirnya malah ngomong soal Islam versi dia. Padahal bohong semua.

Ada beberapa mualaf di Indonesia. Mereka ini saudara kita dalam iman. Jangan dikritik prosesnya menjadi mualaf, sebab itu layak diapresiasi, tapi kritik kelakuannya setelah menjadi muslim jika memang layak dikritik. Yahya Waloni, misalnya. Ini orang konyol, sedikit tampak tolol. Ya harus dikritik kalau dia bikin masalah, jangan malah diberi panggung untuk ceramah ngawurnya. Felix Siaw bagaimana? Mbuh lah.

Karena itu, saya angkat kopiah pada beberapa mualaf yang sadar diri dan tahu diri untuk berproses dan mendalami Islam secara matang dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk “menjadi”. Bukan makcling, bersyahadat, lantas diberi panggung untuk ceramah yang isinya ngelantur. Bisa berabe.

Karena itu, saya salut pada Syekh Mus’ab Luke Martin Penfound. Dia masuk Islam di awal 2000-an, lantas nyantri kepada Habib Umar bin Hafidz, Yaman, selama lebih dari 15 tahun. Mendalami Islam dari jalur sebenarnya, berproses sesuai dengan mekanisme yang ada, dan belajar berbagai fan keilmuan. Tidak terburu-buru menjadi “ulama”.

Kalau berguru pada jalur yang tepat hasilnya juga oke. Martin Lings, contoh lain, selain mempelajari bahasa Arab dan keilmuan Islam secara mendalam, dia juga berada pada jalur sufisme. Karena itu tangga keilmuannya juga bertahap sebab ada pembimbingnya di Tarekat Syadziliyah. Pemahaman keilmuan Islam, khususnya dalam Tarikh dan amaliah tarekatnya sama baiknya dengan pengetahuan mendalamnya terhadap naskah-naskah Shakespeare. Mengikuti pemikiran Abu Bakar Sirajuddin, nama muslim Lings, akan mempertautkan kita pada gagasan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad), filsuf perenial yang eksentrik itu.

Ada banyak mualaf berkelas yang menuangkan gagasamnya melalui karyanya. Khususnya dalam pergolakan batinnya maupun pendalamannya mengenai Islam. Tulisannya simpatik tanpa harus meracau keburukan agama lawasnya. Murad W. Hoffman, Leopold Weiss (Muhammad Asad, tafsir al-Qur’annya sangat bagus. Beli ke saya saja hahahaa), Maryam Jameela, hingga profesor cantik Ingrid Mattson yang renungan al-Qur’annya enak dinikmati itu.

Oke. Jika dirasa terlalu berat, kira menziarahi jalan hidup dua muallaf melalui otobiografinya. Kalau yang agak elegan bisa kita temukan dalam buku karya Prof. Jeffrey Lang, “Aku Beriman, Maka Aku Bertanya”. Lang adalah Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, yang menjadi muallaf setelah sekian lama mengajukan pertanyaan-gugatan kritis dalam teologi dan berbagai aspek hingga pada akhirnya dia mendapatkan hidayah. Tuturan dalam bukunya asyik, kritis, namun tidak ada cacimaki terhadap agama lawasnya.

Selain Lang, ada Kapten James “Yusuf” Yee juga menulis “For God and Country”. Buku bagus yang edisi Indonesianya dicetak dengan luks ini berkisah awalmula dirinya sebagai warga AS keturunan Tionghoa, masuk West Point–akademi militer bergengsi di AS, ditugaskan di Suriah, kemudian memeluk Islam. Setelah itu dia menghadapi berbagai masalah saat ditugaskan di Guantanamo dan harus mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari sesama rekan tentaranya, karena Yee–sebagai perwira AS–justru memperlakukan tahanan dengan baik. Yee memang tidak berkisah panjang lebar soal awal mula ketertarikannya dengan Islam, tapi cukup memadai untuk menggambarkan pergulatan batinnya hingga sampai pada hidayah dan kehidupannya di AS sebagai seorang keturunan Tionghoa sekaligus muslim.

Kalau dari jalur pemikir Salafi, ada Dennis Bradley Philips atau yang masyhur dengan nama Abu Ameenah Bilal Philips. Buku karya pria kelahiran Jamaika ini bagus dan layak diapresiasi secara ilmiah, sebab dia melewati jalur akademik untuk menjadi seorang ahli: mendalami bahasa dan fiqh di Univ. Raja Saud dan Universitas Madinah, setelah sebelumnya belajar bahasa Arab dengan baik.

***

Hidayah itu istimewa dan keimanan itu sangat esensial. Sebab pergulatan batin dan perjalanan menggapai hidayah itu seringkali menjadikan seseorang lebih dewasa bersikap dan bahkan lebih mendalam menjalankan ajaran agama barunya. Ikuti proses dan tahapan keilmuan yang ada, biar tidak menabrak pakem dan melantur kesana-kemari.

Kalaupun ada yang masih emosional, sensitif, kemudian menjual “kejelekan” agama lawas maupun ideologi lamanya ya anggap saja masih belum move on dan masih terbayang-bayang masa lalu. Melupakan mantan dan masa lalu, lantas fokus pada kenyataan sekarang itu memang sulit. Eh….

KH. A. Aziz Masyhuri dan Para Penjaga Ingatan

KH. A. Aziz Masyhuri dan Para Penjaga Ingatan

Oleh: Rijal Mumazziq Z (Rektor INAIFAS Kencong Jember)

Di Indonesia, ada tiga orang penyelamat dokumen-arsip alias dokumentator yang saya kagumi.

Pertama, Des Alwi. Anak didik Bung Hatta dan Sutan Sjahrir ini dikenal gigih mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah bangsa Indonesia, khususnya saat era revolusi fisik. Selain menjadi pelaku sejarah, ketekunannya mengumpulkan dokumentasi (foto, rekaman suara, dan rekaman gambar), maupun mendokumentasikan aspek-aspek yang bagi orang lain remeh, membuat pria kelahiran Banda Neira ini menjadi salah satu referensi terpercaya bagi peneliti dan pengkaji sejarah.

Kedua, HB Jassin. Paus sastra Indonesia ini dengan tekun menyimpan karya-karya sastrawan Indonesia era Hindia Belanda hingga era Orde Baru. Baik yang sudah berbentuk buku, kliping media massa, bahkan sekadar catatan-catatan tulisan tangan yang berserak. Pusat Dokumentasi HB Jassin di Jakarta adalah bukti ketekunannya. Sayang, minimnya perhatian pemerintah terhadap “harta karun intelektual” yang ia tinggalkan ini membuat nasih ratusan ribu dokumen-arsip merana, persis nasib perpustakaan Bung Hatta!

Ketiga, KH. Abdul Aziz Masyhuri. Kegigihan Pengasuh PP. Al-Aziziyyah Denanyar Jombang ini dalam mendokumentasikan arsip NU dan banomnya pantas diapresiasi. Beliau dengan tekun mengumpulkan hasil Bahtsul Masail NU saat Munas, Konbes maupun Muktamar NU dari masa ke masa hingga terbit menjadi buku Ahkamul Fuqaha: Hasil Keputusan Munas, Konbes, dan Muktamar NU sejak tahun 1926 hingga muktamar paling mutakhir setebal hampir 1000 halaman.

Begitu pula yang beliau lakukan dengan menghimpun hasil bahtsul masail Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah dari Muktamar ke Muktamar dengan judul al-Fuyudlat ar-Rabbaniyyah. Kedua buku di atas diterbitkan Khalista. Ini belum mencermati keuletan beliau yang dengan tekun menulis buku dengan beragam topik. Setidaknya, lebih dari 150 judul buku yang telah beliau himpun, sunting, tulis, atau diterjemahkan. Penerbit Imtiyaz yang saya kelola mendapatkan kehormatan menerbitkan salah satu karya ulama kelahiran Tuban ini, “Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf” (2015).

Bagi beliau tiada hari tanpa menulis. Saat sowan bersama sahabat saya, Ahsanul Fuad ( Jati Mulyo Jombang ) menjelang muktamar NU 2015 silam, beliau bercerita apabila zaman dulu proses kepenulisannya diawali dengan cara manual: menulis tangan. Kemudian saat ada mesin ketik beliau pun memanfaatkannya.

Saat menulis KH. Bisri Sjansuri: Cita Cita dan Pengabdiannya (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), beliau masih ingat apabila mengetik naskah buku ini secara langsung di kantor percetakan di Surabaya selama beberapa hari. “Saya ngetik di situ, ya tidur di situ sampai selesai tulisan buku tersebut,” kata Kiai Aziz sambil terkekeh mengingat momen puluhan tahun silam itu. Kiai Aziz sengaja ngebut menulis biografi gurunya tersebut atas perintah Ny. Hj. Solihah Wahid Hasyim (ibunda Gus Dur) semata-mata mengejar momentum 1000 hari wafatnya Kiai Bisri Sjansuri, 1983, sebab buku bersampul coklat tersebut dibagikan di acara peringatan kematian besan KH. M. Hasyim Asyari itu.

Pada saat sowan itu, beliau juga menunjukkan fotokopian sebuah kitab tipis berjudul An-Nushush al-Islamiyyah fi Radd al-Wahhabiyyah karya Wakil Rais Akbar NU, KH. Faqih Maskumambang, Gresik. Kitab ini terbitan salah satu penerbit di Kairo, 1922, dan sempat lama tidak terdeteksi keberadaannya hingga kemudian Kiai Aziz menemukannya. Sebelum merekomendasikan agar kitab ini diterjemahkan dan diterbitkan ulang beserta teks aslinya, Kiai Aziz melakukan “izin” terlebih dulu kepada Kiai Faqih Maskumambang dengan menziarahi makamnya.

Gus Abdul Muiz Aziz, putra beliau, melalui WA mengirimkan sebuah foto saat Kiai Aziz duduk membaca tahlil di sebuah makam sederhana yang terkepung ilalang dan nyaris tanpa perawatan memadai. Itulah makam ulama besar yang polemiknya dengan Kiai Hasyim Asyari mengenai hukum kentongan juga diabadikan secara kreatif melalui kitab.

Atas rekomendasi Kiai Aziz, terjemahan kitab an-Nushush al-Islamiyah fi Radd al-Wahhabiyyah ini kemudian diterbitkan oleh Penerbit Sahifa dengan judul “Menolak Wahabi, Membongkar Penyimpangan Sekte Wahabi; dari Ibnu Taimiyah hingga Abdul Qadir At-Tilmisani” (2015).

Kiai Aziz Masyhuri dan Kiai Bisri Sjansuri

Ustadz Aziz Ja’far, seorang santri Kiai Aziz bercerita, apabila gurunya tersebut punya kebiasaan menulis di ruangan pribadinya. Para santrinya juga paham, apabila lampu kamar masih menyala berarti di situ gurunya sedang menulis. Ketika kesehatan Kiai Aziz mulai terganggu, beliau kembali menulis tangan, lalu ada santri yang kebagian mengetiknya di komputer/laptop dan hasilnya tinggal ditashihkan kepadanya. Tak heran jika sampai akhir hayatnya, Kiai Aziz telah menulis lebih dari 150 karya dalam berbagai bentuk: karya orisinal, terjemahan, saduran, dan ringkasan. Ciri khas lainnya, beliau selalu menyertakan teks asli yang berbahasa Arab di setiap buku yang beliau terjemahkan.

“Jika ada tamu istimewa yang datang ke Pondok Denanyar, biasanya kegiatan ngaji di asrama diliburkan. Para santri kemudian dihadirkan di masjid induk untuk menyambut dan mendengarkan ceramahnya. Kadang ada syaikh dari al-Azhar Kairo, guru besar dari Sudan, ulama/habib dari Yaman, para menteri dari Jakarta dan tokoh-tokoh lainnya. Di situlah Kiai Aziz Masyhuri mendampingi,” tulis A Afif Amrullah, santri Kiai Aziz lainnya, dalam status facabooknya.

Juli 2014 silam, saya ditelepon Kiai Aziz agar menghadap beliau. Saya sowan dan diminta mencari karya beliau yang masih ketikan lama di tengah tumpukan berbagai buku di perpustakaan pribadi Kiai Aziz yang tersedia di samping ndalem. Terus terang saya kebingungan karena harus mencari naskah di tengah beberapa manuskrip yang berceceran di meja maupun berjejalan di dalam rak. Ketemulah naskah berjudul “Ensiklopedi Tokoh Tarekat”. Sebuah naskah berisi biografi para sufi agung dari masa ke masa yang di-layout dengan sederhana. Beliau memasrahkan ke saya agar mengetik ulang naskah tersebut, dan jika memungkinkan, sekaligus menerbitkannya.

Saat sowan itu pula Kiai Aziz bercerita mengenai KH. Bisri Sjansuri, guru sekaligus kakek dari istrinya, Ny. Hj. Azizah Aziz Bisri Sjansuri.

Tahun 1979, Kiai Aziz mendampingi Kiai Bisri saat Muktamar NU XXVI, tahun 1979 di Semarang. Di sana, banyak tamu luar negeri yang disamping ikut menyaksikan berlangsungnya muktamar juga menemui Mbah Bisri. Banyak tamu yang mengagumi keberhasilan Mbah Bisri dalam memimpin NU meskipun usia pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang Jawa Timur itu sudah senja.

Di antara sekian banyak tamu, terdapat seorang guru besar Masjidil Haram bernama Syekh Zakariya bin Syekh Abdillah Billah yang mengikuti rombongan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani Makkah. Syekh Zakariya punya beberapa karya tulis, di antaranya berjudul al-Jawahirul Hisan yang saat itu belum selesai dia tulis. Dalam karya tersebut, Syekh Zakariya ingin memasukkan biografi Mbah Bisri. Untuk keperluan itu, Kiai Aziz Masyhuri, yang merupakan cucu menantu Mbah Bisri, diwawancarai oleh Syekh Zakariya. Di antara pertanyaannya adalah mengenai karya tulis Mbah Bisri yang sudah dicetak. ”KH. Bisri Sjansuri memang tidak banyak menulis karya berupa buku,” jawab Kiai Aziz.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah Denanyar ini memaklumi pertanyaan tersebut, sebab untuk mengukur kebesaran seseorang kadang-kadang dinilai dari banyaknya buku dibuat. Namun, melihat kiprah Mbah Bisri, jelas penilaian di atas kurang tepat. Sebab, karya monumental Mbah Bisri bersama beberapa ulama lain adalah organisasi bernama Nahdlatul Ulama serta orang-orang besar yang dibimbing Mbah Bisri dalam rapat, pengajian di rumah dan masjid, diskusi di dalam perjalanan, di dalam rapat politik, maupun dalam berbagai kesempatan lain.

Buah pikirannya juga terurai di mana-mana, dalam banyak kesempatan dan peristiwa, dikembangkan oleh banyak kader dan santri, dan tidak sempat dibukukan. Adapun perkara minim dan nihilnya pendokumentasian gagasan dan buah pemikiran Mbah Bisri ini juga dapat dimaklumi karena selama beliau hidup tidak memiliki seorang sekretaris maupun asisten pribadi yang bertugas mencatat pemikirannya. Jadual yang sangat padat dan aktivitasnya sebagai pemimpin umat, sejak muda hingga menjelang kewafatan pada usia kurang lebih 96 tahun, ternyata dirasa cukup kurang untuk bisa memiliki waktu luang menulis buku.

Sebaliknya, dalam kurun 70 tahun, waktunya digunakan untuk membina umat, mengasuh pesantren, menemani kalangan ulama, berdiskusi dengan politisi dan kelompok pergerakan, berjuang di era perang kemerdekaan, dan menyediakan diri sebagai nahkoda NU.

Benar, Mbah Bisri memang tidak sempat menulis buku beraksara A, B, C maupun Alif, Ba, Ta dan seterusnya, tapi beliau telah menulis dalam jiwa para santri, kader, dan masyakat melalui keteladanan selama hidupnya. Jadi, Mbah Bisri tidak menulis buku, karena hidupnya adalah teks terbuka yang bisa dibaca oleh siapapun.

Multitalenta

Selain menulis di berbagai tema: fiqh, tasawuf, tafsir, hadits, tarikh, ushul fiqh, ilmu kalam, balaghah, menyusun mahfudzat, maupun menerjemahkan berbagai karya ulama, yang pantas dikagumi dari Kiai Aziz adalah kemauan kuatnya untuk menyebarluaskan karyanya meskipun harus difotokopi secara sederhana.

Saya masih ingat apabila dalam momentum Muktamar NU di Makassar, 2010, Kiai Aziz bersama putranya, Gus Abdul Muiz, menitipkan buku 99 Kiai Kharismatik Indonesia Jilid 3 karya beliau yang di-layout dan difotokopi secara sederhana dan dijilid manual kepada saya untuk dijualkan. Meski tidak habis seluruhnya, namun karya ini banyak diapresiasi oleh para muktamirin. Selain itu, Kiai Aziz juga membawa dan menitipkan beberapa puluh eksemplar terjemahan kitab Al-Inshaf fi Asbabil Ikhtilaf karya Syah Waliyullah Ad-Dahlawi (dengan tetap menyertakan teks aslinya). Beberapa bulan kemudian, Pustaka Pesantren (LKiS Grup) menerbitkan karya ini dengan judul Beda Pendapat di Tengah Umat (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, Agustus 2010).

Ketika Muktamar Jamiyyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah di Malang, 2012, Kiai Aziz juga menitipkan ke saya sebuah karya terjemahan sebuah kitab dengan tetap menyertakan teks aslinya. Kalau tidak salah ingat Is’aful Muslimin wal Muslimat karya M. Al-‘Arabi yang diterjemahkan menjadi Hadiah Pahala.

Terakhir kali mencium tangan beliau saat ada pertemuan para kiai di Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo Asembagus Situbondo, 13 Januari 2017, silam. Berpulangnya beliau adalah kehilangan besar bagi NU. Sebab, beliaulah yang selama ini dengan telaten mengumpulkan “remah remah” dokumentasi organisasi yang jarang diperhatikan atau setidaknya tidak dianggap penting bagi kebanyakan orang.

Bagi saya, ketiga orang di atas, khususnya Kiai Aziz Masyhuri, adalah pionir yang menjaga denyut nadi ingatan manusia agar terus berjuang melawan lupa. Dalam istilah Milan Kundera, perjuangan manusia adalah perjuangan melawan lupa. Sebab, sudah menjadi karakteristik dasar manusia, apabila terlampau sering melupakan hal-hal esensial yang penting namun tidak dianggap penting. Dan, para penyelamat ingatan inilah yang paring berperan dalam menjaga agar kita terus ingat dan tidak lupa mengenai kesejarahan kita.

Lagi pula, di kalangan NU, Kiai Aziz adalah dokumentator tangguh hal ihwal organisasi ini setelah era Kiai Umar Burhan, Gresik, santri KH. Hasyim Asyari, yang punya ketelatenan dan keistiqamahan di atas rata-rata dalam mengumpulkan dan merawat berbagai pernak pernik ke-NU-an. Tak heran juga apabila para peneliti asing seperti Martin van Bruinessen, Andree Feillard, Mitsuo Nakamura, dan Ken Miichi, begitu menghormati pribadi dan keilmuan Kiai Aziz Masyhuri.

Upaya yang dilakoni para penjaga ingatan seperti Des Alwi, HB. Jassin dan almukarram KH. A. Aziz Masyhuri memang tidak mudah di tengah ketidakpedulian bangsa kita terhadap arsip-dokumentasi-manuskrip. Padahal ketiganya merupakan perekam dinamika zaman sekaligus penanda kemajuan intelektual dalam kurun tertentu!

Akhirnya, semoga jejak langkah beliau bertiga dalam “menjaga dan mewariskan ingatan” kepada bangsa ini menjadi amal jariyah di akherat, di mana pahalanya senantiasa mengalir bagi beliau bertiga.

Wallahu A’lam Bisshawab.

(Tulisan di atas sudah dimuat dalam “Kiai Kantong Bolong” (Cet. II, April 2018).