Sosialisasi Skripsi ‘21 dan Launching Jurnal An-Nuqtah

Sosialisasi Skripsi ‘21 dan Launching Jurnal An-Nuqtah

Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah M.Pd.I (Dosen Pendidikan Bahasa Arab)

Pada hari sabtu 20 November 2021 kemarin, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Skripsi ‘21 dan Launching Jurnal An-Nuqtah” kepada para mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Semester VII yang akan menulis tugas akhir (skripsi). Tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan panduan tugas akhir (skripsi) agar mahasiswa dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum memulai menyusun skripsi dengan sistematika penulisan yang tepat sesuai dengan aturan penulisan ilmiah dan gaya penulisan Prodi PBA.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, bapak Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab memberikan arahan pedoman penulisan skripsi mulai dari mekanisme bimbingan skripsi digital, sistematika penulisan, penentuan jumlah halaman skripsi, penulisan transliterasi Arab, cek plagiasi, penulisan kutipan dan referensi, tugas dan tanggungjawab DPS/mahasiswa bimbingan hingga mekanisme ujian munaqasah digital.

Pada kegiatan tersebut, mahasiswa diarahkan untuk menulis skripsi secara sederhana, mudah dan cepat (simple, easier, faster). Diantara kemudahan dalam penyelesaian skripsi ialah dengan adanya, 1) pengurangan jumlah halaman, semisal: mahasiswa sudah bisa melaksanakan seminar proposal hanya dengan 5 halaman saja sesuai format penulisan dibuku panduan, 2) bimbingan skripsi digital, mahasiswa hanya mengirimkan file office word tiap BAB kepada DPS via Whatsapp/Email, 3) penulisan kutipan, mahasiswa diajarkan mengutip kalimat langsung dan tidak langsung menggunakan APA Style, 4) referensi, jumlah minimal 20 referensi yang terbagi atas 80% jurnal ilmiah/sinta/scopus dan 20% buku ber-ISBN, dan 5) cek plagiasi, mahasiswa dibantu untuk cek plagiasi via Turnitin oleh pihak kampus.

Bapak Kaprodi juga memberikan kebijakan bahwa skripsi kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu semua dokumen skripsi mulai dari bimbingan hingga ujian munaqasah semuanya harus berbasis digital agar memudahkan mahasiswa dalam meminimalisir biaya yang terbuang sia-sia.

Diharapkan setelah mengikuti sosialisasi tersebut, mahasiswa mampu memiliki gambaran pemetaan skripsi yang akan dikerjakan. Sehingga mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab bisa selesai tepat waktu dan mengimplementasikan keilmuan sesuai dengan keahlian masing-masing.

Diakhir acara, semua mahasiswa bersorak ria dengan adanya “Launching Jurnal an-Nuqtah” sebagai langkah awal pencapaian hasil riset produk mahasiswa Prodi PBA INAIFAS Kencong. Semoga dengan adanya jurnal mahasiswa PBA ini, menambah semangat berkarya dalam hal penulisan karya ilmiah sebagai khasanah keilmuan serta penunjang proses pendidikan.

Link Ejournal Jurnal an-Nuqtah

https://ejournal.inaifas.ac.id/index.php/An-Nuqthah/about

Salam PBA Bravo!!

EVALUASI KEGIATAN PPL PBA INAIFAS

EVALUASI KEGIATAN PPL PBA INAIFAS

Bagikan sekarang

Oleh: Asni Furoidah M.Pd.I (Dosen Pendidikan Bahasa Arab)

Program kegiatan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) terintegrasi dan saling mendukung satu sama lain untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa sebagai calon guru atau tenaga kependidikan. Program-program yang dikembangkan dalam pelaksanaan PPL pada komunitas sekolah atau lembaga. Dalam evaluasi tersebut, Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab menyampaikan bahwa program yang dirancang diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa terutama dalam hal pengalaman mengajar, perluasan wawasan, melatih dan mengembangkan kompetensi mengajar yang diperlukan dalam bidangnya serta meningkatkan keterampilan, kemandirian, tanggungjawab dan kemampuan dalam memecahkan masalah pembelajaran.

Masalah yang muncul dilapangan berdasarkan pemantauan misalnya praktik mengajar oleh mahasiswa tidak memenuhi target, mahasiswa tidak membuat perangkat pembelajaran, program harian mahasiswa tidak dibuat, media pembelajaran kurang memadai dan lain-lain. Sedangkan masalah akademik yang sering muncul adalah mengenai pemilihan program prioritas PPL yang kurang mencermati program sekolah yang dapat diintegrasikan menjadi program PPL, keterlambatan pembagian tugas atau jadwal tugas mengajar guru oleh pihak sekolah.

Dalam pelaksanaan kegiatan PPL ini, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki diantaranya: penyusunan perangkat pembelajaran (RPP, Prota, Promes, Silabus dsb) yang disesuaikan dengan program sekolah, penentuan guru pamong sesuai dengan prodi PBA, bentuk kerjasama intern antara pihak sekolah dengan prodi PBA serta laporan penyusunan PPL mahasiswa.

Setelah melaksanakan kegiatan PPL, mahasiswa diharapkan menyelesaikan tugas PPL dengan menulis laporan serta jurnal terkait penelitian selama PPL yang nantinya laporan tersebut akan disubmit kedalam jurnal an-Nuqtah sebagai hasil akhir pelaksanaan PPL. Dari hasil tersebut, mahasiswa sudah bisa mendapatkan nilai sekaligus sebagai syarat pengajuan judul skripsi dengan bimbingan dosen.

Acara yang dilaksanakan pada Ahad (21/11/2021) di Kampus II lt.5 ini dihadiri oleh segenap dosen PBA Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember. Semoga hasil dari evaluasi ini bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik bagi INAIFAS khususnya Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Salam PBA Bravo!!

Kecerdasan Digital: Kemampuan Yang Wajib Dimiliki Mahasiswa

Kecerdasan Digital: Kemampuan Yang Wajib Dimiliki Mahasiswa

Bagikan sekarang

Oleh: Mila Agustin (Ketua Dewan Mahasiswa INAIFAS 2021-2022)

Indonesia sekarang menghadapi situasi semakin marak dan terbukanya cakrawala dalam globalisasi, dimana akses media sosial dan informasi sudah tidak dibatasi lagi oleh waktu dan tempat. Dimana orang-orang biasanya memposting kegiatan mereka di media sosial dan ini bisa dijadikan sebagai informasi bagi orang-orang yang berada di media sosial tersebut.

Namun perlu diperhatikan pentingnya memberikan ruang publik yang terbatas. Tidak hanya untuk menjaga privasi, melainnkan juga untuk menghindarkan diri kita dari marabahaya media sosial.

Akibatnya sangat fatal kalau kita tidak memperhatikan dengan betul konsekuensi atas apa yang bagikan kepada orang lain di dunia maya. Demikian pula adanya ujaran kebencian atau hoaks yang beredar. Maka dibutuhkan kecerdasan literasi digital bagi anak muda.

Untuk mengurangi dampak negatif dan demi memperkuat hubungan sosial di dunia digital ini, maka Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah bekerjasama dengan DEMA INAIFAS berkolaborasi dengan PROGRAM KEMENKOMINFO dan PT.Pacto Convex yang bergerak dalam Event organizer. Saya atas nama Presiden Mahasiswa INAIFAS, merasa bangga dipercaya menjalankan program ini dengan baik. Sebab, dari 14 kota yang digunakan tempat penyelenggaraan acara, Jember terpilih menjadi salah satunya, dan INAIFAS diberi amanah menjalankannya.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 24 November 2021 di kampus INAIFAS via zoom meet dengan mengusung tema “Membangun Solidaritas Sosial Melalui Literasi Digital”.

Pada acara tersebut ada beberapa pemateri yaitu Bapak Aam Waro’ P.S.Sos yaitu SEKJEN PUSKAPI (Pusat Kajian Pemilu Indonesia) yang berbicara tentang “Kecakapan Digital”, juga Bapam Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) INAIFAS yang memaparkam materi mengenai “Budaya Digital”.

Lalu Ibu Rovien Aryunia, S. Pd., M. PPO, M. .M dari Mafindo, yang mana perempuan paruh baya yang akrab disapa Bu Rovien ini merupakan Ketua Human Resources (HR) Seger Group. Dosen Praktisi UNAIR ini menjelaskan materi pilar “Etika Digital”.

Selanjutnya ada Bapak Tio Utomo yang merupakan Co-Founder Box2box, dan aktif dalam Podcast Network and Indonesia Market Lead For FIFA. Bapak Tio menyampaikan materi “Keamanan Sosial”. Dan yang terakhir yaitu penjelasan materi oleh Habib Husein Ja’far Al Haddar yang merupakan Konten Kreator Keislaman Pemuda Tersesat.

Dalam sambutanya, Rektor INAIFAS, Gus Rijal Mumaziq Zionis mengatakan, peran dunia digital memang sangat besar bagi semua kalangan, banyak manfaat dan fitur-fitur yang membantu pekerjaan masyarakat, misalnya pembelajaran daring, webinar, dan bahkan pekerjaan. Salah satu contohnya ialah, saat ini sudah banyak ditemui outline-outline jualan di media sosial atau produk yang dipromosikan melalui media sosial.

Mengenai kecakapan digital, Bapak Aam Waro’ menjelaskan, kemajuan dunia digital digunakan untuk mendukung proses demokrasi yang lebih baik.
Menurutnya, literasi digital adalah dasar untuk membuat kebebasan berpendapat menjadi semakin aman dan terjamin. Hanya saja, lanjutnya, tantangan bagi kita bersama untuk menciptakan iklim demokrasi yang ideal.

Kedudukan kita di dunia digital sama dengan siapapun, bahkan dengan presiden sekalipun.Dunia digital menjamín kesamaan hak dan kebebasan berpendapat kita semua.

Dalam hal budaya digital, Bapak Akhmad Rudi Masrukhin menjelaskan perlunya literasi digital dengan menginovasikan supaya menghasilkan sesuatu yang baru yang lebih efisien dan bisa dimanfaatkan.

Literasi digital merupakan pengetahun dalam memanfaatkan media digital.
Indonesia sendiri mempunyai peluang opimisme di era industri 4.0 dengan presentase 78 %. Adapun kerangka kerja literasi digital yang dipakai dalam kurikulum Indonesia tahun 2020-2024 yaitu digital skill, digital culture, digital ethnic dan digital safety.

Lebih lanjut, Pak Rudi menyatakan, integrasi kurikulum pendidikan (4 kompetensi inti) dalam literasi digital terdiri dari spiritual, moral, pengetahuan, keterampilan dan konsistensi.

Di sisi lain, Ibu Rovien menjelaskan bahwa kita harus bijak dan beretika menghargai keberagaman di ruang digital dengan berperilaku aman di ruang digital seperti menjaga sikap dan etika, menjaga privasi, mengelola media sosial dengan baik, menghindari akun negatif serta memanfaatkan media sosial untuk personal branding.

Adapun prinsip beretika di ruang digital yaitu memanusiakan manusia, jaga diri dan jaga orang lain, serta sadar konsekuensi. Ibu Rovien juga mengajak kita untuk mewujudkan ruang digital yang berlandasan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Acara yang diikuti ratusan peserta ini semakin menarik manakala pemateri ketiga, Bapak Tio Utomo memberi pesan agar jangan sampai kecanduan digital karena efek sampingnya itu mudah marah, dan stres, merasa kesepian, sulit fokus dan adanya kesulitan di dunia sosial.

Hal tersebut, menurutnya, bisa diatasi dengan membatasi waktu dalam menggunakan gawai dan berselancar di dunia digital, mencari hobi baru sehingga melupakan sesaat dunia digital, serta menghapus aplikasi yang membuat kecanduan.

Di sisi lain, Habib Husein Ja’far Al-Hadar menjelaskan, mengapa orang yang tidak saling mengenal bisa terikat dalam satu perasaan bahwa mereka adalah bagian dari sebuah komunitas yang disebut bangsa? Mengapa orang mau mati untuk sebuah bangsa, untuk anggota-anggota yang tidak dikenalnya? Karena Solidaritas!

Baginya, kehadiran solidaritas kebangsaan (nasionalisme) itu banyak berkaitan dengan kapitalisme media cetak (print-capitalism) yang membuat orang memiliki kemampuan untuk membayangkan (imagined) dalam posisi orang lain (emphaty).

Namun, menurut Habib Husein, perlu diperhatikan bahwa, semakin majunya teknologi ini dan semakin mengglobal sifatnya, maka masyarakat perlu meningkatkan kehati-hatian, utamanya dalam membagikan hal-hal atau kegitan pribadi di media sosial.
Jangan sampai data penting dan data diri yang menghubungkan akses pribadi menjadi tersebar dan diakses oleh orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan tindak kejahatan.

Itulah pentingnya mengapa edukasi dan wawasan tambahan untuk memperluas informasi dan cakrawala tentang globalisme, kemajuan, dan peran media sosial harus ditambah dan diupayakan diberikan untuk semua lapisan masyarakat.

Keunggulan Memondokkan Buah Hati di Pesantren.

Keunggulan Memondokkan Buah Hati di Pesantren.

Bagikan sekarang

Oleh: Muhammad Iqbal Harimi, S.Pd.I
(Mahasiswa Pascasarjana INAIFAS)

Di pesantren itu unik, pola pembelajarannya pun lebih menekankan olah hati dan lelaku istiqomah. Pengimbangan antara ilmu yang di dapat dengan pengamalannya. Sistem pendidikan pesantren menerapkan kurikulum yang sejak zaman “kolo bendu” hingga sekarang tidak pernah terjadi perubahan, kecuali pola sorogan yang dikembangkan ke klasikal, dan pola majemen administrasinya. Kurikulum pesantren ini akan menjadi ciri khas di setiap pesantren yang ada di Indonesia. Sistem inilah yang seringkali dikritik sebagai stagnasi oleh kaum modernis non pesantren. Pesantren tidak bisa diintervensi dalam penerapan kurikulumnya oleh pemerintah, karena itu sudah paten dan terbukti dengan produk santri lulusannya.

Tidak seperti kurikulum pendidikan nasional yang seringkali berubah-ubah dan meribetkan para guru. Sebatas yang saya tahu, sejak kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 (KBK), kurikulum 2006 (KTSP), kurikulum 2013, dan hingga sekarang, belum menaikkan Indonesai ke derajat yang signifikan dalam peringkat pendidikan dunia.

Ada rahasia kunci kesuksesan pesantren dalam menghasilkan produk santrinya, diantaranya adalah;

Pertama, guru benar-benar terfokus mengajar, mendidik, dan istiqomah. Tanpa diriwuki administrasi kependidikan yang menyita banyak waktu. Misalnya para kiai dan ustadz di pesantren dapat dengan tenang dan istiqomah mengajar, sebab tidak disibukkan oleh Kurikulum, Silabus, RPP, Administrasi kenaikan pangkat, gaji dan lain lain. Mereka benar-benar bisa memusatkan perhatiannya kepada santri.

Kedua, adanya faktor kedekatan antara murid dengan guru, baik kedekatan fisik (mujalasah) saat pembelajaran (halaqah/talaqqi), atau kedekatan emosional-bathin (ta’alluq qalby) yang mengantarkan pada pendekatan diri kepada Allah SWT. yang tidak bisa digambarkan oleh ucapan. Guru dapat melihat utuh perhatiannya kepada sang murid. Sehingga adab dalam majelis ilmu dapat terjaga dengan baik. pertautan bathin inilah yang tidak bisa dijangkau oleh para pakar yang hanya mengandalkan rasionalitas dalam hal menuju keberhasilan belajar.

Contoh kedua ini, sebagaimana Imam Syafi’i belajar langsung kepada Imam Malik dan tinggal di rumah gurunya itu selama 8 bulan tanpa berpisah, kemanapun Imam Malik pergi, di situ ada Imam Syafi’i. Begitu juga di pesantren, santri-santri selama 24 jam full hidup bersanding di samping rumah Kiyai, dan berbaur dengan para ustadz-ustadznya di dalam pesantren. Sehingga meskipun di luar jam KBM, para santri dapat leluasa untuk bertemu gurunya dalam hal konsultasi dan pendalaman ilmu. Sang guru-pun dapat memantau perkembangan santri secara langsung.

Ketiga, keikhlasan, point ini yang selalu dicontohkan oleh para pendidik pesantren. Guru dan ulama senantiasa ikhlas dalam mengajar dan mendidik. Bagaimana kisah Imam Malik yang berkali-kali menolak untuk dibuatkan rumah oleh khalifah. Suatu ketika Imam Malik didatangi Khalifah Harun Ar-Rasyid dengan uang 3.000 dinar. Maksud Khalifah agar uang itu digunakan untuk membeli rumah. Akan tetapi 3.000 dinar yang diterima Imam Malik justeru dibagi-bagikan (beasiswa) kepada pelajar yang kekurangan bekal. Apa yang dilakukan oleh Imam Malik ini nampaknya ditiru oleh Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al Maliki Al Hasani, berbagai riwayat dari para muridnya, Sayyid Muhammad ini menanggung kebutuhan makan dan belanja kitab santri-santrinya, agar santri tidak disibukkan bekerja dan bisa fokus belajar. Demikian juga hingga sekarang, banyak kiyai yang membantu kebutuhan santri dalam belajar secara gratis.

Keempat, kesadaran belajar yang tinggi. Point ini adalah kesadaran dari setiap individu. Karena meskipun berada di dalam pesantren yang berkualitas tinggi, namun jika tidak didadasari dengan kesadaran belajar yang kuat, maka hasilnya pun tidak akan maksimal. Kita bisa lihat di pojok-pojok asrama pesantren hingga perpustakaannya akan tetap terang benderang menyinari santri yang sedang muthala’ah hingga larut malam.

Soal kesadaran belajar ini selalu dicontohkan oleh para ulama pendahulu. Dikisahkan Imam Syafi’i pernah selama berbulan-bulan tidak keluar dari bilik rumahnya karena untuk menghafal dan melancarkannya dari catatan-catatan di tembikar, tulang, dan potongan-potongan kertas yang ditulisnya. Demikan juga beliau siap kelalahan untuk berkelana karena haus ilmu. Imam Syafi’i berkelana dari Mekah ke Madinah, Baghdad/Iraq, hingga wafat di Mesir.

Kelima, takror (mengulang materi dengan diskusi) dalam bentuk bahtsul masa’il. Kegiatan ini biasanya diterapkan secara bertingkat dan bertahap. Diawali kegiatan takror atau diskusi kecil di setiap kelas, kemudian tingkat pesantren dengan melibatkan seluruh santri yang berkompeten di setiap jenjang, hingga dibawa ke tingkat paling bergengsi antar seluruh pesantren se Jawa-Madura, yakni di Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP). Forum ini membahas problematika umat atas kejadian kekinian (waqi’iyyah) yang dialami masyarakat untuk dijawab dan dicarikan solusinya.

Keenam, sistem muhafadhah (hafalan). Setiap jenjang atau tingkat kelas di pesantren menerapkan satu sampai dua materi yang wajib dihafal santri, bahkan terkadang sebagai syarat mutlak kenaikan kelas. Biasanya mulai tingkat awal hingga akhir wajib menghafal materi dalam fan ilmu tajwid, tauhid, nahwu, sharaf, hingga balaghah. Materi hafalan dalam bentuk kalam nadzam, seperti kitab Tuhfatul Athfal dan Jazariyah dalam fan ilmu tajwid. Aqidatul Awam dalam fan ilmu aqidah. Jurumiyah, Amtsilat At-Tashrif, ‘Imrithi, Al-Maqsud, Mulhatu Al-I’rab, Qowa’idu Al-I’rab, Alfiah Ibni Malik dalam fan nahwu dan sharaf. Dan kitab Jauhar Al-Maknun dalam fan ilmu balaghah.

Tidak hanya sebatas hafalan, tetapi para santri akan di tes pemahaman isi dari kitab yang sedang dihafalkannya. Sistem ini tetap dipertahankan oleh sebagian besar pesantren salaf hingga sekarang. Meskipun banyak kritikan kalau sistem itu hanya menghambat waktu percepatan dalam menyelasaikan sebuah fan ilmu, karena dinilai hanya di ulang-ulang sampai dua hingga tiga tahun dengan fan ilmu yang sama. Tetapi bagi pesantren sistem hafalan yang di ulang-ulang inilah yang akan menyatukan ilmu ke dalam hati santri. Dan sistem ini yang justru mempertajam pemahaman dan analisis santri dalam memahami sebuah ilmu.

Ketujuh, mujahadah. Adalah salah satu kegiatan penguatan spiritual guru dan santri di pesantren. Kegiatan mujahadah ini variatif bentuknya di setiap pesantren. Misalnya, kegiatan pembacaan aurad (wirid-wirid doa seperti, wirdul latif, ratibul haddad, hizb nawawi, hizb nashar, ratibul ‘atthas, dan wirid-wirid lain dari sang kiyai) setelah jamaah lima waktu, tahajjud, doa fajar sambil menunggu jamaah subuh, shalat dhuha, shalat tasbih, puasa sunnah (khususnya senin-kamis), dan kegiatan-kegiatan sejenisnya. Tujuan dari mujahadah ini adalah agar santri dapat meningkatkan dzikirnya kepada Allah SWT. Sebagai perwujudan penguatan bathin, sebuah pengingat semua yang dihasilkan di dunia adalah pemberian dan untuk mengingat Tuhannya.

Tujuh hal di atas adalah sekelumit alasan yang menjadikan mengapa produk pesantren masih bisa diandalkan hingga sekarang. Dari tujuh hal diatas, ada beberapa point yang tidak akan ditemukan di dalam sistem pendidikan di luar pesantren.

Dalam sisi historis, perlu diingat kiprah para ulama pesantren Indonesia yang menjadi panutan dalam kelihaian ilmunya dan dapat menjamah dunia Islam internasional. Seperti Syekh Yasin, seorang ulama Indonesia yang menjadi tumpuan pemburu sanad Hadits di Mekah, Kiyai Nawawi Banten, ulama pengajar di Masjidil Haram, Syekh Mahfudz Termas, pengajar di Masjidil Haram, Kiyai Ihsan Jampes Kediri, pengarang kitab Siraj At-Thalibin, syarah kitab Minhaj Al-Abidin karya Imam Ghazali. Dan banyak lagi ulama-ulama besar lainnya.

Puncak kesuksesan produk pesantren dan peran intinya untuk bangsa Indonesia adalah berdirinya Nahdlatul Ulama. Dimana para pendirinya adalah ulama-ulama besar yang lahir dari dan pengasuh pondok pesantren. Seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisyri Samsuri, KH. As’ad Syamsul Arifin, dan Syaikhona Kholil Bangkalan, guru para ulama pendiri NU dan tonggak inti, pembawa isyarat langit atas berdirinya NU.

Soal kritik untuk pesantren tentu ada yang bisa diterima dan di tolak. Karena kritik atas pesantren bagi yang belum pernah terjun ke dalam akan hampa nilainya. Tapi jika kritik itu keluar dari gagasan orang-orang yang sudah terlahir dari pesantren tentu akan dipertimbangkan matang-matang. Apakah kritik itu sesuai dengan nilai prinsip yang mengakar di pesantren untuk kepentingan perkembangan dan kemajuan, atau justeru bertentangan.

Namun, di masa sekarang, para orang tua perlu mewaspadai dan berhati-hati dalam memilih pesantren untuk keluarga dan anak-anaknya. Karena sudah banyak bermunculan para pembawa ideologi impor di Indonesia, yang juga mendirikan lembaga dengan nama pesantren/ma’had, dan rumah tahfiz. Padahal mereka banyak bertentangan dengan paham Islam pesantren-pesantren yang sudah mengakar berabad-abad di Indonesia.

Intinya, yuk kembalikan anak-anak kita ke Pesantren yang tepat. Karena di pesantren, anak kita akan terjaga dari keresahan semua orang saat ini, yakni hilangnya tatakrama atau yang disebut dengan “the loss of adab”.

Wallahu A’lam Bishshawab