Bagikan sekarang

Toleransi adalah bagian hidup terpenting dalam moderasi beragama. Sehingga pemerintah bersikap tegas dan tak akan berkompromi terhadap tindakan intoleransi yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Moderasi beragama (moderasi Islam) diduga merupakan dukungan pemerintah terhadap Global War on Terrorism (GWoT), kampanye Barat yang dilancarkan pasca peristiwa WTC 11 September 2001.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor I (Bidang Akademik ) INAIFAS Dr. Asnawan, M.S.I pada saat menjadi pembicara dalam “Temu Wicara ; Sehat Ruhani dan Anti Radikalisme” yang digelar oleh Fatayat NU Cabang Kencong di Aula PCNU setempat. Minggu pagi (13/02).

Pria kelahiran Sumenep itu menjelaskan gabungan kedua kata ‘moderasi’ dan ‘beragama’ menunjuk kepada sikap dan upaya menjadikan agama sebagai dasar dan prinsip untuk selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem (radikalisme) dan selalu mencari jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa Indonesia.

“Secara sederhana, istilah moderasi beragama itu merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam praktik beragama” tegas Asnawan yang juga menjabat sekretaris PC GP Ansor Kencong.

Dirinya memaparkan, ada 3 strategi atau upaya dalam penguatan moderasi beragama. Pertama, membina umat berdasarkan akidah murni dan lurus. Akidah kuat akan membentengi umat Islam dari pemahaman sesat seperti pluralisme dan sejenisnya.

Kedua, melakukan sinergi dengan berbagai komponen umat Islam. Bekerja sama dengan komponen umat yaitu tokoh Islam, aktivis gerakan Islam, ulama, ustadz, penggerak majelis taklim, intelektual muslim dan lain-lain. Ketiga, mendirikan pusat kajian keislaman yang memperkuat dakwah Islam kaffah.

“Oleh karena itu, demi membangun toleransi dan pluralisme di NKRI, maka orang-orang muda intelektual dari kalangan PC. Fatayat NU Kencong, hendaklah terus berusaha membangun ‘Spirit Baru’ dalam merawat toleransi beragama demi terwujudnya perdamaian” tambahnya.

Baca juga  Jumat Berkah, INAIFAS Kembali Gelontorkan Beasiswa

Hal tersebut harus diperkuat dengan tetap memegang teguh fondasi empat pilar, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD 1945 sebagai konstitusi dan ketetapan MPR RI, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan semenjak NKRI berdiri.

“Sebab perjalanan bangsa Indonesia semenjak berdiri sudah dianugerahi kebhinnekaan oleh-Nya sebagai keunikan dan kekayaan bangsa Indonesia yang harus terus dirawat oleh seluruh komponen bangsa terlebih dari kalangan PC. Fatayat NU Kencong” pungkasnya.