Bagikan sekarang

Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PkM-BR) mahasiswa Institut Agama Islam Al- Falah As- Sunniyyah (INAIFAS) Kencong Jember sama seperti program KKN sebelumnya, namun pada PkM-BR ini lebih difokuskan terhadap problematika yang ada di masyarakat. Hal ini merupakan substansi penting perguruan tinggi untuk merubah masyarakat agar menjadi lebih baik lagi, khususnya daerah Grenden dan sekitarnya.

PkM-BR kali ini mengusung tema “Membangun Masyarakat Sejahtera menuju SDGs (Sustainable Development Goals)” adapun pengarusutamaan tema tersebut dikerucutkan untuk mewujudkan Goals 1,2,3 dan 4. Diantaranya (1) Tanpa kemiskinan, (2) Tanpa Kelaparan, (3) Pendidikan Berkualitas dan (4) Gender Equality. Hal itu disampaikan oleh Dr. Hj. Syarifatul Marwiyah, M.Pd.I saat acara pembekalan mahasiswa PkM- BR (Sabtu, 16/07/22).

Kamis, (28/07/20222) Posko 18 yang beranggotakan 4 mahasiswa dan 3 mahasiswi bersama Nur Wahidah, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) menuju kantor Kepala Desa Grenden untuk menyerahkan surat serah terima Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset (PkM-BR).

Menurut bapak Suyono selaku Kepala Desa Grenden, bahwa Desa di Kecamatan Puger ini sudah menerapkan Sustainable Development Goals (SDGs) walaupun secara manual dan presentase belum mencapai angka sempurna.

“Kita berharap, kedatangan mahasiswa INAIFAS dapat membantu mengoptimalkan SDGs ini terutama di bidang pendidikan dan kemiskinan,” tandasnya.

Kemudian Arif Budiman selaku kepala Dusun Krajan II, juga menambahi bahwa problem di Desa yang bersebelahan dengan Dusun Kamaran ini adalah tentang pola dan gaya hidup yang tidak balance.

Dikatakan bahwa pola dan gaya hidup masyarakat yang sudah banyak berubah dan menyebabkan tidak balance antara keduanya berakibat masalah yang signifikan yaitu kemiskinan.

“Bagaimana sih hidup masyarakat desa yang kembali kepada desanya? sambil menunjukan wajah yang penuh kekecewaan dan harapan,” imbuh pria berusia 35 tahun ini.

Baca juga  Pembangunan Lantai 3 Gedung Induk INAIFAS 95% Rampung, Selamat datang Mahasiswa baru.

Lebih lanjut, Arif menjelaskan pola dan gaya hidup yang tidak seimbang juga berpengaruh terhadap pendidikan anak. Orang tua sekarang sudah mulai lalai dengan kewajibannya untuk membiayai pendidikan anak, pada zaman sekarang orang tua lebih mementingkan gengsi dari pada mememuhi kewajibannya.

“Entah itu mampu membeli barang ini dan itu, namun giliran diminta untuk bayar biaya pendidikan anak, orang tua bilang tidak mampu bahkan sampai mengajukan keringanan untuk biaya pendidikan,” tandasnya.

Oleh karena itu, Arif berharap dengan kedatangan mahasiswa INAIFAS ini dapat sedikit merubah kebiasaan yang perlu dibangun untuk pola dan gaya hidup yang seimbang seperti dulu lagi.

“Balance antara gaya hidup dengan penghasilan.” harap bapak Kasun Rabu (28/07/2022).

Mendengar hal itu, Ulum Kordes posko 18 mengatakan berarti masalah yang terjadi di Dusun Kerajan II adalah lebih mementingkan kebutuhan sekunder hingga tersier dari pada kebutuhan primer.

“Sehingga lebih banyak pengeluaran dari pada pemasukan dan timbul hutang piutang yang menyebabkan angka kemiskinan meningkat,” ujar Ulum.


Laporan Posko 18 Desa Grenden. DPL: Nur Wahidah, M.Pd.