Bagikan sekarang

Kegiatan PkM-BR (Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Riset) yang kelola Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) oleh Institut Agama Islam Al Falah As-Sunniyyah Kencong Jember mengadakan tahun 2022 diadakan pada 5 kecamatan yang ada di wilayah Jember Selatan. Kecamatan tersebut terdiri dari kecamatan Jombang, Kencong, Umbulsari, Gumukmas dan Puger.

Kegiatan PkM-BR ini diikuti oleh 192 peserta dari beberapa prodi angkatan 2019. PkM-BR ini resmi di terjunkan pada tanggal 26 Juli 2022, salah satunya di kecamatan Puger. Pada kecamatan Puger terdapat 5 Desa yang ditempati. Diantaranya yaitu Desa Mojomulyo, Mojosari, Puger Kulon, Puger Wetan dan Grenden. PkM-BR tahun 2022 sekarang mengangkat tema “Membangun Masyarakat Sejahtera Menuju SDGs”.

Adapun yang menjadi fokus program PkM-BR mengenai pembangunan yang berkelanjutan atau yang biasa disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang terdiri dari 17 indikator yang ada dalam SDGs, INAIFAS hanya mengambil 4 Indikator yaitu Tanpa Kemiskinan, Tanpa Kelaparan, Pendidikan Berkualitas, dan Kesetaraan Gender.

Di kecamatan Puger terdapat 5 posko, salah satunya adalah posko 20 yang bertempat di Desa Puger Wetan. Sekilas tentang Desa Puger Wetan adalah salah satu bagian dari wilayah kabupaten Jember yang terletak disebelah selatan dengan luas wilayah 415,233 Ha dan jumlah penduduk sekitar 10 ribu jiwa yang terdiri dari masyarakat Jawa dan Madura.

Namun, sebagian besar penduduknya adalah orang Jawa. Desa Puger Wetan merupakan desa pesisir sehingga mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Salah satu ikon yang menjadi primadona di desa ini adalah produksi ikan Asin. Namun di samping ikan asin masyarakat juga memproduksi berbagai olahan dari laut diantarnya terasi, pindang, petis, abon, dan sarden.

Baca juga  Jawab Kebutuhan Mahasiswa Baru, PMII Rayon Tarbiyah INAIFAS Gelar Sinau Dasar Karya Tulis

Menurut Ibu Misnati (60 tahun) selaku salah satu produsen ikan asin di daerah Puger Wetan, beliau mengatakan bahwasannya usaha itu sudah berdiri sekitar 10 tahun lamanya lokasinya berdekatan dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Usaha ikan asin ini berdiri di tanah pemerintah dan dikelola secara perorangan.

Ada berbagai jenis ikan yang diolah menjadi ikan asin, diantaranya adalah ikan tongkol, ikan layang, dan ikan tenguru. Adapun cara pengolahannya cukup mudah sehingga mampu menjadi daya tarik masyarakat untuk memproduksi ikan asin tersebut.

Ibu Misnati mengatakan “bahwa proses pembuatan itu sangat mudah sekali. Ikan yang baru datang dari nelayan langsung di olah dengan cara di rendam garam selama kurang lebih 12 jam setelah dijemur selama 2 hari di bawah terik matahari” ungkapnya.

Produksi ikan asin ini tidak dilakukan setiap hari jika sedang tidak ada musim ikan. Hal itu disebabkan karena adanya ketidakpastian cuaca yang terjadi. Pemasaran ikan asin ini dilakukan oleh tengkulak kemudian di distribusikan hingga ke berbagai pasar tradisional dan toko.

Yang menjadi perhatian dari mahasiswa PkM-BR ini adalah tentang pemasaran yang tidak terlalu pesat dan luas. Salah satu contohnya ikan asin ini tidak memasuki pasar modern seperti halnya Supermarket dan Swalayan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya label halal dan pengemasan yang kurang higienis, namun demikian tidak mengurangi daya tarik konsumen untuk mengkonsumsinya.

Harapan kedepannya bagi Mahasiswa PkM-BR posko 20 ini mampu mampu memberikan akses untuk memperluas pemasarannya agar mampu memasuki pasar modern seperti halnya swalayan dan dapat dipasarkan melalui e-commerce.

Laporan Posko 20 Desa Puger Wetan. DPL: Muhammad Syarofi, M.E.