Bagikan sekarang

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Aset ada tiga. Aset tidak bergerak berupa rumah, tanah, sawah, tegalan, dll , termasuk emas, yang valuasinya naik saban tahun. Tidak bakal rugi juga “memaksa” diri bekerja keras menyediakan jenis aset ini.

Gus Baha’, dalam salah satu nukilan ceramah yang saya temui di Tiktok, pernah bilang kalau beliau membangun beberapa rumah sederhana untuk diwariskan ke anak-anaknya kelak. Anak beliau dua (sebagaimana dituturkan dalam ceramah), tapi Gus Baha’ punya 3-4 rumah. Pertimbangan beliau soal agama. Jangan sampai kelak ketika anak-anak beliau berdakwah masih direpotkan urusan keluarga. Faktor lain, dengan mengutip Surat Al-Hasyr ayat 9, beliau bilang kalau para sahabat Anshar dipuji Allah bukan lantaran keimanannya, melainkan karena membangun rumah lebih dulu.

Sedangkan jenis yang kedua adalah aset yang valuasinya turun. Biasanya bersifat teknologikal. Hape, laptop, kendaraan, dan barang elektronik. Setiap bulan nilainya pasti turun. Harga purnajual pasti meleset anjlok.

Soal aset ini, kita bisa melihat, kadang yang pendapatannya di bawah Rp 5 juta/bulan punya tegalan, sawah, dan bisa membangun rumah. Bisa kita lihat skema manajemen ala orangtua atau leluhur kita. Penghasilan tak sebanyak kita, tapi mampu mewariskan aset berharga. Sedikit atau banyak.

Sebaliknya, yang penghasilannya puluhan kali lipat, malah hanya menghabiskan fulus untuk menumpuk aset bergerak. Kendaraan lebih dari satu, hape beberapa, peralatan elektronik yang sebenarnya tidak dibutuhkan, namun hanya diinginkan, dikoleksi. Pola yang kedua ini, biasanya karena pertimbangan faktor gengsi, bukan fungsi. Secara fungsional, cukup punya 1 sepeda motor/mobil untuk menunjang mobilitas. Tapi karena dikelilingi teman-teman yang bersaing soal “kemapanan”, akhirnya memaksa untuk menaikkan gengsi dengan kendaraan yang di atas kemampuan ekonominya. Honda Beat cukup, tapi lingkungan memaksa agar beli motor sport. Semata-mata agar terlihat kaya, bukan kaya beneran. Padahal pilar ekonominya rapuh. Di sini rawan kredit macet (jika belinya kredit lho ya).

Baca juga  Cara Gus Dur Mempromosikan Kiai

Faktor gengsi ini yang rawan menjadikan diri kita kemaruk/kemrungsung/serakah. Faktor BOS (Barang, Orang, dan Situasi) yang terkadang membuat seseorang ingin eksistensinya diakui oleh lingkungan sekitarnya. Erich Fromm menyebut pola ini sebagai “Having Mode” alias bahagia dengan memiliki untuk dikoleksi atau dipamerkan. Dalam pola interaksi sosial menjelang lebaran, banyak kaum urban yang memilih untuk menggadaikan barangnya, semata-mata untuk membeli benda lain yang bisa dipamerkan saat pulang kampung, walaupun tetangga yang dipameri juga tidak peduli. Di sisi lain, dalam interaksi di dunia maya, kecenderungan seperti ini melahirkan aksi-aksi flexing, yang kemudian memunculkan istilah Crazy Rich dan Sultan, juga tayangan reality show bertajuk Sobat Misqueen (Trans7), Indosiar x 7 Crazy Rich Indonesia (Indosiar), dan Crazy Rich (Trans TV). Padahal aksi flexing ini bagian dari branding dan marketing, yang juga rawan manipulasi dan penipuan (ah, jadi ingat Indra Kenz).

Yang ketiga, aset dinamis. Ini berupa jaringan persahabatan. Aset ini yang harus diperhatikan, dirawat, dan dipertahankan. Sepintar apapun kita, kalau tak punya jaringan ya mandeg. Sekeren apapun kita kalau para sahabat menjauh karena karakter kita yang menyebalkan, kita bakal statis.

Soal aset dinamis ini, saya teringat pesan almarhum bapak saya, H Saifuddin Mujtaba (semoga Allah melapangkan kubur beliau), “Kalau kamu berpikir di dunia ini isinya hanya orang berperilaku buruk, nggak lama Allah bakal mewujudkan prasangkamu. Sebaliknya jika kamu berpikir masih banyak orang baik di sekitarmu, niscaya Allah menggerakkan mereka agar bersahabat denganmu.”

Wallahu A’lam Bishshawab