Mendaras kembali sejarah Kampus, BEM INAIFAS gelar Wicara Daring

As-Sunniyyah dan Al-Falah, Dua Lembaga Tonggak Sejarah Berdirinya INAIFAS

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) INAIFAS (Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah) Kencong mengadakan gelar wicara daring (talkshow online) dengan mengusung tema “Mendaras Sejarah dan Profil Kampus Dakwah INAIFAS” bertempat di Jalan Semeru No.09 Kencong Jember, Minggu (7/6/2020).

Mantan Rektor INAIFAS Kencong, M. Nafi’ur Rofiq mengatakan bahwa sejarah pendirian kampus INAIFAS tidak bisa lepas dari dua lembaga besar di kawasan Jember bagian selatan.

Dua lembaga tersebut yakni Pondok Pesantren As-Sunniyah Jember dan Masjid Al-Falah. Keduanya berdiri di Kecamatan Kencong, Jember.

“Masyarakat Jember dan sekitarnya sudah mengetahui profil Pondok Pesantren As-Sunniyah ini yang berciri khas salafiyah atau tradisional. Namun dalam perjalanannya saat ini pondok pesantren ini bercirikan gabungan salafiyah (tradisional) dan halafiah (modern),” terang Rektor INAIFAS Periode 2008 – 2012 tersebut.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa salah satu penggagas pendirian kampus INAIFAS yang juga pengasuh Ponpes As-Sunniyah Jember, KH Ahmad Sadid Jauhari, sebelum pendirian kampus sempat melakukan safari ke berbagai lokasi.

Tujuannya untuk mencari formula untuk mendirikan lembaga pendidikan yang lebih besar, sekaligus untuk mencari solusi dari masalah anjloknya jumlah santri di ponpes yang dibinanya waktu itu.

“Akhirnya didirikan sebuah yayasan baru yakni, Yayasan Pendidikan Islam Alfalah Assuniyah (YPIAA). Berangkat dari yayasan baru tersebut kemudian para tokoh di dalamnya mengembangkan berbagai program pendidikan formal, termasuk pendirian INAIFAS,” ujarnya.

Nafi’ur mengatakan bahwa pengembangan kampus INAIFAS masih berlangsung.

Bahkan, diungkapkannya bahwa pihaknya tengah memperjuangkan INAIFAS dapat bertransformasi menjadi universitas.

“Pada 2018 akhir, kami juga menyampaikan beberapa usulan kepada ketua yayasan. Bagaimana kalau ini tidak berhenti di sebuah institut tapi sampai menjadi universitas. Memang tidak mudah, karena ketentuannya minimal harus ada 3 fakultas atau prodi umum,” terang Nafi’ur.

Baca juga  Jelang Fesban Se-Jawa Timur, Panitia gelar Technical Meeting

Karena itu, dia menyatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan sejumlah hal untuk memenuhi ketentuan tersebut.

“Sehingga kami melakukan safari, di antaranya ke UNIRA (Universitas Islam Raden Rahmat) Malang. Di sana kami belajar dan bertanya tentang strategi untuk mengembangkan institut menjadi universitas,” ungkapnya.

Akhmad Rudi Masrukhin, Ketua LP2M INAIFAS sekaligus Sekretaris PMB menambahkan bahwa kampus INAIFAS Kencong didirikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus kebutuhan zaman.

Khususnya di bidang pendidikan dan teknologi.

Kendati demikian, dia menerangkan bahwa kampus INAIFAS tetap mempertahankan prinsip yang ditetapkan oleh KH Ahmad Sadid Jauhari.

Yakni sebagai tempat mempelajari dan memahami agama Islam.

Dia juga menambahkan bahwa kampus INAIFAS juga terus melakukan inovasi untuk menjawab tantangan zaman.

“Teringat orang bijak mengatakan bahwa orang yang selalu bergerak dan belajar dialah pemilik masa depan. Sementara orang yang terus diam dia akan menjadi orang terdahulu. Kalau diam terus akan menjadi orang purba,” imbuh Rudi sambil bercanda.

Sebagai tambahan informasi, saat ini INAIFAS Kencong telah memiliki tiga fakultas dan enam prodi.

Diantaranya, Fakultas Tarbiyah dengan prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), dan Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI).

Fakultas Syariah dengan prodi Ahwal Syakhshiyyah/Hukum Keluarga (AS/HKI), dan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam dengan prodi Ekonomi Syariah (ES).

Foto : Mella
Penulis : Nurmaidah

Respond For " Mendaras kembali sejarah Kampus, BEM INAIFAS gelar Wicara Daring "

1 × five =